MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

Mengapa orang lebih jijik pada pengemis dibanding pada koruptor?

03.07 | , , ,

Jumat malam setelah menyelesaikan pekerjaan, aku melihat linimasa twitter yang ternyata sudah ramai dengan percakapan #saveKPK. Ramai sekali hingga sabtu pagi.
Banyak sekali tweet dukungan terhadap KPK mulai dari tokoh hingga orang-orang biasa, mulai dari datang ke Gedung KPK hingga yang mentweet atau meretweet. Gerakan anti korupsi menemukan musuh yang kuat hingga menarik banyak simpati dari masyarakat.  Kisruh ini bukan yang pertama, dan bukan pula yang terakhir. Upaya pemberantasan korupsi masih butuh proses panjang.
Apa sih sulitnya memberantas korupsi? Mungkin ada yang menjawab korupsi berlindung dibalik kekuasan. Mungkin ada yang bilang memberantas korupsi itu. Beberapa teman memberikan jawaban seperti dibawah ini:

Tapi entah kenapa tiba-tiba tadi pagi terlintas ide tentang kira-kira mengapa sulit memberantas korupsi. Sayangnya, jawaban itu juga berupa pertanyaan hehe. Apa? Ya judul posting ini lah. Mengapa orang lebih jijik pada pengemis dibanding pada koruptor?
Dalam benak kita, koruptor itu lebih diterima dari pada pengemis secara alami. Karena lebih diterima, maka kita lebih sulit menolak/menghindari koruptor dari pada menolak/menghindari kehadiran pengemis di dekat kita. Koruptor disini dimaknai sebagai personifikasi dari korupsi, bentuk konkret dari korupsi yang bisa kita lihat.
Dibawah ini contohnya. Kira-kira bagaimana respon kita menyikapi orang pada dua foto dibawah ini?

Bayangkan ya, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang semacam pada foto pertama datang dan duduk di sebelah kita. Mata kita sudah dimanjakan dengan penampilannya. Ketika bersebelahan, hidung kita dimanjakan harum badannya.
Sekarang bayangkan, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang semacam pada foto kedua datang dan duduk disebelah kita. Sejak awal aja sudah bikin sepet mata. Pas duduk sebelahan, hidung kita langsung terserang bau tak sedap.
Kira-kira pada kesempatan mana kita lebih mungkin menggeser duduk atau bahkan menghindar? Ya. Secara alami, lebih besar kemungkinan pada kejadian kedua.
Selain itu, koruptor adalah orang yang berseragam. Kita lebih mudah menerima kehadiran dan perintah dari kalangan yang berseragam, bahkan ketika perintah tersebut sebenarnya tidak kita setujui.  Seragam adalah simbol otoritas. Kita mengasosiasikan pengguna seragam sebagai pemegang otoritas yang diterima secara umum. Jadi seragam itu menimbulkan kesan yang cenderung positif pada penggunanya.
Seringkali seragam ini diperkuat dengan kata-kata “kebenaran”. “Kebenaran” yang berasal dari pendapat umum, dari undang-undang, bahkan dari kitab suci. Kombinasi seragam dan kata-kata kebenaran itu tampak pada film keren berjudul Kita vs Korupsi: Aku Padamu.
Belum lagi kalau kita berbicara koruptor punya banyak uang yang memungkinkannya mengakses tempat dan fasilitas mewah yang relatif dipandang oleh masyarakat.
Pada akhirnya, sekarang bayangkan kita sebagai orang yang berada dalam “sistem” dan berinteraksi langsung dengan mereka yang kita sebut “koruptor”. Jangan-jangan kita juga masih lebih jijik pada pengemis dibanding pada mereka. Selama kita masih nyaman dekat dengan koruptor maka koruptor pun masih nyaman untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya, korupsi.
Belajar dari kasus “Pemberantasan Korupsi di Italia”, setidaknya ada 3 agenda pemberantasan korupsi:
  1. Pemimpin nasional yang berkomitmen melakukan pemberantasan korupsi
  2. Lembaga pemberantasan korupsi yang kuat (Itulah pentingnya #SaveKPK)
  3. Gerakan sosial dan pendidikan untuk menghentikan kebiasaan mengidolakan koruptor dan mencari idola-idola baru dari kalangan yang bersih
Aku pribadi akan mengambil peran pada gerakan pendidikan, gerakan yang mengembangkan anak yang berkarakter sesuai pohon karakter, sehingga bangga pada kemampuan diri sendiri dan jijik untuk melakukan korupsi.
Bagaimana cara agar lebih jijik pada koruptor dibanding pada pengemis?


Taurus In Motivation

0 komentar:

Poskan Komentar