Blog Baru

Semua ada disini

Taurus Blogger

disini banyak artikel menarik

Wisata Yuk...!!!

Website tentang pariwisata di Malang Raya

Mari Memasak

Disini banyak aneka resep Masakan dan Minuman

Taurus Site

Blog Baru yang berisi motivasi

MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

TENTANG PEMUDA ITU

09.51 |




Terkisah disuatu kota, hiduplah seorang pemuda yang tampan dan saleh, serta berpendidikan. Pemuda itu mempunyai orang tua yang hampir setiap hari, secara halus memaksanya untuk menikah.

Ayah dan ibunya telah mengajukan banyak proposal pernikahan pada pemuda tampan itu, tapi anehnya semua tidak ada yang cocok. Mereka pun berpikir dan menjadi sedikit curiga pada anaknya. Kemungkinkan si pemuda telah memiliki wanita pilihan, tapi kenapa tak pernah memperkenalkan pada orang tuanya sendiri. Dan tanpa putus asa, orang tua pemuda tersebut selalu mencarikan wanita untuk anaknya.

Namun setiap kali orang tuanya memperkenalkan pada seorang wanita, pemuda itu selalu berkata,” bukan dia orangnya yang cocok.”

Pemuda itu hanya ingin seorang gadis yang paham tentang agama dan santun prilakunya. Sampai pada satu hari ibunya mengatur rencana baginya, yaitu untuk bertemu dengan seorang gadis yang dianggap cukup solehah oleh ibunya dan juga santun. Pada hari yang telah ditentukan, pertemuan itu pun terjadi di rumah si pemuda. Sang ibu yang mengajak gadis itu kerumahnya dengan harapan dapat menaklukan hati anaknya. Akhirnya si gadis dan pemuda itu saling berbicara , dan saling bertanya.
Pemuda itu mengizinkan si gadis untuk bertanya terlebih dahulu padanya. Si gadis bertanya pada pemuda itu dengan begitu banyak pertanyaan, dia bertanya tentang pendidikan, teman-teman, keluarga, kebiasaan, hobi, gaya hidup, pengalaman, bahkan bertanya tentang ukuran sepatu si pemuda.
Si pemuda menjawab semua pertanyaan dari si gadis tanpa lelah, dan dengan kata yang sopan serta tak lupa dengan sesekali diselingi dengan senyuman khasnya. Si gadis hampir menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk bertanya. Karena merasa tak enak, si gadis pun meminta agar pemuda itu juga bertanya padanya.

Pemuda itu berkata,”saya hanya memiliki 3 pertanyaan.”

“Hanya tiga pertanyaan? Wow, kira-kira apa ya?,” pikir gadis itu dalam hati.

“Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini dan yang juga mencintaimu tanpa batas?.”

“Pertanyaan yang mudah, ibu saya tentunya,” jawab gadis itu sambil tersenyum.

“Pertanyaan kedua, kamu bilang bahwa kamu telah banyak membaca Al-Qur’an, bisa kamu ceritakan surat mana dalam Al-Qur’an yang kamu telah paham arti dan maknanya?,” lanjut si pemuda.
Mendengar pertanyaan itu, wajah gadis itu memerah menahan malu seraya berkata,” saya tidak hafal arti dan makna walau satu surahpun dalam Al-Qur’an, hanya beberapa ayat saja yang saya tahu maknanya. Tapi, nanti saya akan berusaha, insya Allah. Maklum, setiap hari saya sangat sibuk yang membuat saya tak sempat menghafal ataupun memahami maknanya.”

“Pertanyaan ketiga, sebenarnya ini bukan pertanyaan, tapi saya hanya akan jujur. Telah banyak gadis yang mendekati saya dan mengajak untuk menikah, dan gadis-gadis itu jauh lebih cantik dari kamu. Jadi, kenapa saya harus mau menikah dengan kamu? Yang lain jauh lebih menawan.” ucap pemuda itu dengan nada serius.

Mendengar perkataan yang keluar dari bibir si pemuda itu, si gadis tampak sangat marah. Matanya memerah, nafasnya naik turun menahan api amarah yang hampir keluar dan siap membakar pemuda itu. Tangannya memukul meja, matanya menatap tajam tanpa berkedip ke arah pemuda itu. Segera ia berdiri, seperti kucing yang siap menerkam mangsanya.

“Kamu pikir kamu pemuda yang paling tampan? Wajah pas-pasan saja sudah sombong. Banyak pemuda yang telah melamarku, tapi aku menolak karena mereka tak berendidikan. Aku mau dijodohkan dengan kamu karena aku mendengar kamu orang yang berpendidikan, tetapi aku salah. Kamu tak lebih baik dari orang yang sakit jiwa.!!” Ucap si gadis dengan suara yang meninggi.

Setelah puas memarahi si pemuda yang dianggap tak tahu diuntung itu, ia bergegas menemui orangtua si pemuda dan mengadukan semuanya.

“Saya tidak ingin menikah dengan putra ibu, dia menghina kecantikan saya, dan juga meremehkan kecerdasan saya.” ucap gadis itu dengan nada kesal, lalu tanpa berkata lagi ia berlalu pergi.

Tentu saja orangtua si pemuda heran dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Ibu si pemuda segera beranjak dari ruang tamu menemui anaknya di teras depan rumah. Rencana untuk menikahkan anaknya gagal lagi. Kali ini orangtua pemuda itu benar-benar marah.

“Apa yang kamu lakukan sampai gadis itu marah? Dia itu dari keluarga yang begitu baik dan ramah. Dia serta keluarganya juga paham tentang agama, dia ciri-ciri wanita yang kamu inginkan. Apa yang kamu katakan pada gadis itu??.” Tanya sang ibu pada si pemuda dengan sedikit kesal.

Pemuda itu berkata,”Sabar dulu, bu. Tadi, pertama saya bertanya kepadanya, siapa yang paling dia cintai? Dia pun menjawab bahwa ibunya yang paling dia cintai.”

“Apa yang salah dengan jawaban itu??.” Tanya sang ibu memotong perkataan anaknya.

Pemuda itu berkata,”Belum dikatakan sempurna iman seseorang, sampai ia mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari siapapun di dunia ini. “Sungguh orang yg beriman lebih mencintai Allah dari pada yg lainnya(QS. Al-Baqoroh 165). Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi lebih dari siapa pun, dia akan mencintai saya dan menghormati saya, dan tetap setia kepada saya dikarenakan cintanya itu yang membuatnya takut pada Allah. Pada akhirnya bisa berbagi kasih dan cinta, karena cinta yang lebih besar dari nafsu kecantikan.”

Pemuda itu menarik nafas, sebelum dia meneruskan perkataannya,” Kemudian saya bertanya, apakah dia membaca banyak Al-Qur’an, dan saya meminta dia untuk menjelaskan arti dan makna dari setiap surah? Dan dia bilang tidak tahu walau satu surah pun karena dia tidak punya waktu, dia bilang sangat sibuk. Saya teringat suatu hadits yang mengatakan bahwa semua manusia itu šeperti orang mati kecuali bagi mereka yang memiliki pengetahuan. Nabi juga pernah bersabda,”Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari). Dia telah berumur 20 tahun dan tidak mempunyai waktu sedikitpun untuk mencari ilmu agama. Lalu, buat apa saya menikahi seorang wanita yang tidak tahu hak-hak dan tanggung jawabnya pada Allah , dan apa yang akan dia ajarkan anak-anak saya? Padahal wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru yang terbaik untuk anak. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, pasti nanti juga tidak akan punya waktu untuk suaminya.” Tambah si pemuda.

Ibunya hanya diam mendengar penjelasan anaknya, raut wajah yang tadi marah itu perlahan-lahan menjadi wajah yang sedikit menyunggingkan senyuman.
“Pertanyaan ketiga saya padanya adalah saya bercerita bahwa banyak gadis yang lebih cantik daripada dia telah mencoba mendekati saya dan mengajak untuk menikah, mengapa saya harus memilih dia? Itulah sebabnya ia bergegas pergi sambil marah-marah.”

“Mengapa kamu berkata hal seperti itu, pantas saja dia marah. Kita harus kerumahnya sekarang untuk minta maaf.” Kata ibunya.

“Ibu, Saya mengatakan hal itu dengan sengaja, untuk menguji apakah dia bisa mengendalikan amarahnya atau tidak. Nabi pernah bersabda,” Jangan marah!” begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Ibnu Hajar dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: “AlKhath thabi berkata, “Arti perkataan Rasulullah SAW ‘jangan marah’ adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang mengarah kepadanya.”
Dan sebenarnya marah itu datangnya dari syetan. Seorang wanita yang tidak bisa mengendalikan kemarahannya dengan orang asing yang baru ia kenal dan baru saja bertemu, lalu apakah ibu kira dia akan mampu mengontrol dan mengendalikan amarah pada suaminya nanti?.” terang si pemuda pada ibunya.

Ibunya tersenyum, menepuk pelan pundak anaknya seraya bergumam, ” Kamu anak kebanggaan ibu yang akan menolong orangtuamu nanti.”

Anak dan ibu itu melangkah kedalam rumah dengan perasaan bahagia. Dan sejak hari itu, ibunya ataupun bapaknya telah menyerahkan keputusan menikah pada anaknya.
Read More

PELACUR GILA

09.47 |


Laksana hamparan bumi hijau yang belum terjamah, ia tidak mengenal perangai-perangai buruk yang saat itu sangat populer di negerinya lantaran anugerah impor dari negeri seberang laut. Mudah-mudahan Tuhan memberkati usaha besar para sarjana pendidikan yang telah melahirkan generasi yang lembut, cinta damai, dan membenci terorisme, namun tak mengenal pembalasan dan senjata. Setelah mabuk dengan teori-teori yang dicekokkan oleh guru-gurunya di negeri-negeri yang memproduksi segala hal sampai barang yang bernama moral, mereka berpendapat bahwa mahluk yang bernama manusia itu seperti lembaran putih yang bisa dicoret-coret sekehendak diri.

Sebagai petani kawakan, aku punya pendapat lain. Aku tak malu mengaku sebagai petani, karena petani punya istilah-istilah yang sulit dipahami banyak orang. Menurut kamus pertanianku, manusia itu bagaikan tanah. Tanah itu kaya dengan unsur-unsur kesuburan dan pertumbuhan, juga selalu siap untuk memberi. Tanah itu tidak negatif ataupun netral. Kalaupun tanah dipenuhi tetumbuhan berduri, dirasuki ulat dan serangga, diserang ular dan hama, dikerami burung gagak dan burung hantu, hal itu tidak lain karena sikap manusia yang tidak menghiraukannya, juga karena kedengkian dan kebencian mereka terhadap warna hijau sejati yang penuh dengan air kehidupan, bukan kebusukan pernis dan cat.

Di sini aku bukan bermaksud untuk menjelaskan teori yang berkaitan dengan pendidikan ataupun budi pekerti. Juga bukan untuk menerangkan tata cara bertani dan menggarap tanah, karena itu adalah wewenang para spesialis di departemen pertanian yang selalu berganti-ganti seiring perubahan musim sepanjang tahun. Di sini aku akan membeberkan sebuah dokumen yang ada kaitannya dengan sebagian persoalan di atas, atau mungkin seluruhnya. Andai saja dokumen ini tidak berkaitan dengan masalah moral yang sangat sensitif dalam pandangan banyak orang, pasti aku akan sebutkan nama, karena aku sangat kenal dekat dengan pelakunya, seperti aku mengenal gilaku.

Pembaca yang terhormat. Dokumen itu berkisah tentang kemunafikan, keculasan, dan lacur bangsa timur. Maaf jika aku agak lancang. Para ustadz di masjid-masjid mungkin tidak rela orang-orang timur dikatakan munafik, culas, juga lacur. Karena ini tidak sesuai dengan kata-kata mereka yang selalu diumbar di setiap kesempatan ataupun tidak, bahwa bangsa barat yang amoral sedang menuju kehancuran. Aku tidak bermaksud mendukung orang barat. Aku bersumpah demi tanah kuburan kakekku -maaf aku tidak bersumpah sesuai undang-undang karena aku hanyalah seorang petani- bahwa memang benar bangunan mereka sudah mulai roboh, namun reruntuhannya mulai menimpa kepala-kepala kita. Dan jika kita tetap diam berpangku tangan, tidak menutup kemungkinan kita adalah orang yang pertama kali terkubur reruntuhan bangunan tersebut.

Suatu hari aku duduk di teras masjid mendengarkan khotbah seorang ustadz yang berapi-api. Suaranya kadang lantang keras kadang lembut sendu. Ia merangkai kalimat-kalimat dengan sedemikian rupa sampai-sampai deretan kata yang keluar seperti bayi yang dilahirkan secara cesar. Terlihat keringatnya menghiasi muka. Gerakan tangan dan kepala serta perut buncitnya menambah semerbak gambaran keserasian antara materi dan isi khotbah. Aku perhatikan para jamaah yang hadir. Ada yang sedang tidur terlelap, mungkin sedang bermimpi indah tentang hari utopia yang sedang digambarkan tanda-tandanya oleh orang yang ada di atas mimbar itu. Sedangkan yang lain laksana batu, terdiam senyap menikmati kelezatan yang disajikan.

Aku pulang ke rumah dengan kepala pusing. Lelah memaksaku terkapar di kasur yang selalu mencaci jasad ini. Kondisi tubuh yang lemah dan umur yang terus bertambah melengkapi rasa sakit yang dapat mempercepat mati. Tiba-tiba saja ada bayangan teman perempuanku menjelma, tepat di hadapanku, di dinding kamar yang pucat abu-abu. Wajahnya terlihat lembut, sumringah, dan optimis. Ia tersenyum hangat kepadaku seperti biasa. Bibir manis serta gigi yang rapih dan putih bersih membuat senyumnya tambah anggun dan menawan. Rambutnya yang hitam pekat terurai panjang dengan indah. Semua itu merasuk ke alam pikiran, menumbuhkan harapan dan kepercayaan. Namun tiba-tiba ia berbalik ketakutan. Ada laba-laba raksasa yang berjalan menuju ke arahnya sembari mengeluarkan air liur kuning lengket dari mulut. Ia berusaha lari namun cakar laba-laba yang penuh dengan bulu kasar dan menjijikan itu mendekapnya kuat. Ia ingin menjerit tapi tidak bisa, seolah ada yang menyumbat di tenggorokan. Ia mengulurkan tangan kepadaku meminta pertolongan, tetapi taring laba-laba itu mencengkram kuat tubuhnya. Semuanya berubah seketika. Rambutnya menjadi putih acak-acakan tak karuan. Pipinya tembem dan menonjol besar. Bibirnya menyatu tak lagi indah. Aku pun terperanjat dan gemetaran. Nafasku habis serasa tercekik. Aku mencoba tuk membuka jendela, namun kakiku tersandung buku yang berserakan di lantai. Aku lemparkan buku-buku itu setiap kali aku lelah bergulat dengan tulisan-tulisan di dalamnya. Aku terjatuh. Darah mengalir dari kening. Aku pun terlapas dari dunia nyata.

Saat tersadar, jendela terbuka lebar dan kertas-kertas berhamburan di dalam kamar. Aku ambil lembaran kertas terdekat yang telah aku beri garis khusus di atas kalimat-kalimatnya. Aku baca, ternyata itu bagian dari dokumen teman perempuanku. Kuseret kaki dengan berat. Aku lihat rupaku di cermin yang miring dan pecah, yang tergantung satu-satunya di dinding. Aku sengaja membiarkannya miring agar aku dapat melihat wajahku dengan jelas. Raut mukaku terlihat ketakutan dan malang. Aku kembali merasa lelah dan letih. Kuambil lembaran kertas itu dan kubaringkan diri di kasur lalu mulai membaca dokumen tentang teman perempuanku itu.

Ia sangat tergila-gila pada seorang laki-laki. Dia sering bercerita tentangnya ke setiap teman perempuan. Di dalam kamar penuh dengan potret-potret lelaki tersebut yang sering terpampang di halaman koran, majalah, dan menghiasai layar televisi saat sedang memberikan seminar, dialog, atau pidato. Ia tak bisa membedakan perasaan kepadanya, campur aduk. Suatu hari saat mengikuti seminar di kampus, ada seorang laki-laki duduk di sampingnya. Ia memakai pakaian mewah dengan parfum yang menyengat hidung. Dengan tatapan ingin tahu, lelaki itu memerhatikan map yang dibawanya. Dalam berkas itu ada foto terbaru yang ia gunting dari majalah. Lelaki itu berkata padanya bahwa ia mengenal lelaki yang ada di potret. Ia adalah teman karibnya.

Ia merasa detak jantungnya terhenti. Pipinya merah merona karena malu. Ia berpikiran orang yang duduk di sampingnya itu mengetahui segala rahasia hatinya. Tahu semua potret yang terpampang di dinding kamarnya. Segera ia tutup kembali map yang dibawanya. Seolah dokumen itu memuat keburukan dirinya. Ia terlihat canggung dan gemetaran. Teman lelakinya meneruskan: “Sudah kubilang aku mengenal orang yang di potret itu. Kalau kamu mau, aku sangat siap untuk mengenalkanmu padanya.” Kalimat terkahir ia ucapkan dengan nada menggoda, namun perempuan itu tidak memperhatikan nada bicaranya. Benarkah bisa bertemu dengan lelaki pujaannya? Menjabat tangannya? Mendengar langsung darinya? Bertanya tentang pikiran-pikiran yang sering ia sampaikan namun belum dimengerti? Perempuan itu merasa terdorong kuat untuk bertemu. Namun bagaimana mungkin bisa menemuinya sedangkan ia tinggal di kota yang jauh. Bagaimana cara meyakinkan keluarganya agar diizinkan pergi. Sekumpulan tanda tanya melayang-layang di benak pikirannya, campur aduk dengan hasrat ingin bertemu, rasa takut, optimisme, dan putus asa.

Jika perasaan yang saling bertentangan ini bercampur baur, maka tak diragukan lagi akibatnya akan menciptakan putaran hebat seperti gasing yang menakutkan. Hanya melihatnya saja akan membuat pusing banyak keliling. Ia ingat perkataan temannya bahwa lelaki pujaannya yang di foto itu akan memberikan kuliah umum minggu depan di kampus. Karena itu mungkin saja ia bisa bertemu setelah acara selesai. Dan teman lelakinya itu sangat siap untuk mempertemukannya. Perasaan aneh merasuki jiwa. Ia membayangkan seandainya hari-hari cepat berlalu seperti menarik tirai kamar. Namun ia juga merasakan ketakutan aneh atas pertemuan nanti.

***

Selama seminar ia tak mengerti satu huruf pun yang disampaikan lelaki yang dikaguminya. Ia hanya terfokus pada gerakan tangannya yang elegan seperti gerakan aktor ulung. Juga pada bibir, raut wajah, dan pandangan matanya yang menyapu ke seluruh yang hadir seolah sedang mencari sesuatu. Para hadirin tediam seolah sedang menyaksikan tukang sulap, bukan seorang pembicara seminar. Ya, ia seperti seorang pesulap. Pesulap ulung! Orang yang mengaguminya begitu banyak, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah yang pertama kali tersihir diam membeku, kemudian dengan cepat merembet ke semua yang hadir.

Ia baru tersadar seiring tepuk tangan yang menyeruak di akhir acara. Pembicara merapihkan lembaran materi seminar, semantara para pengagumnya berhamburan ke depan berebut jabatan tangan memberikan ucapan selamat. Seseorang mendekati dan berbisik ke telinganya. Ia tahu orang yang mendekatinya adalah laki-laki yang menemuinya saat seminar dulu. Ia melihat mata pembicara itu tertuju padanya. Ia langsung salah tingkah, gugup dan malu. Lelaki itu terseyum, namun ia tak bisa menebak arti senyuman laki-laki pujaannya tersebut. Yang pasti senyum seperti itu baru dilihatnya, tidak seperti senyum-senyum yang sering ia lihat di foto-foto atau televisi. Teman lelakinya memberitahukan kalau lelaki pujaanya itu bisa bertemu besok malam di paviliun yang telah disiapkan. Kenapa harus besok malam. Mungkin karena dia sibuk, pikirnya.

Sang ibu memperhatikan tingkah laku anak perempuannya yang tidak biasa. Wajahnya kelihatan pucat dan gugup. Ia mengira anak perempuannya itu sedang sakit. Ibunya langsung menuju dapur setelah merasa tenang kalau anaknya hanya sedikit merasa takut dengan ujian yang tetap harus dilaksankan malam hari.

***

Di sebuah ruangan mewah, para penggemar laki-laki dan perempuan duduk-duduk menunggu untuk bertemu dengan lelaki tersohor itu. Ia merasa aneh. Penampilan perempuan-perempuan yang sedang duduk itu seperti orang yang akan menghadiri pesta pernikahan, bukan bertemu dengan seorang cendekiawan. Pipi-pipi mereka dipaksa terlihat seperti darah, merah membara. Sebagian lagi dibuat-buat agar kelihatan merah merona. Bulu mata mereka warna-warni, ada yang biru, hitam, dan cokelat. Mereka terlihat sering sekali membuka tas dan melihat ke cermin. Ia mencuri pandang ke salah satu tas yang dibawa para perempuan. Di dalamnya penuh dengan berbagai macam parfum, bedak berbagai merek, dan peralatan kosmetik lainnya. Sepertinya si empunya memang datang untuk sebuah pertempuran hebat. Mata para lelaki memeloloti mereka dengan lahap. Ia merasa mau muntah. Hampir saja ia lari saat mendengar lelaki yang ia kenal saat seminar itu memanggilnya masuk.

Ia masuk ke sebuah ruangan kecil yang memuat beberapa kursi dan meja. Ada juga buku-buku yang menumpuk. Di dalamnya terdapat guntingan-guntingan kertas. Ada juga halaman-halaman yang terlipat. Ia mengambil salah satu buku. Pengarangnya adalah seorang pemikir barat terkenal. Ia membuka buku itu tepat pada bagian halaman yang terlipat. Lalu membaca kalimat yang di bawahnya telah digarisi warna kuning. Ia teringat kalimat tersebut sering diulang-ulang oleh lelaki pujannya dalam setiap seminar. Mungkin itu bagian dari gagasan-gagasan favoritnya. Cepat-cepat ia tutup kembali buku itu.

Pintu pun dibuka. Untuk pertama kalinya ia melihat lelaki pujaanya dari dekat. Penampilannya sangat berbeda sekali. Mukanya kuning pucat ditambah kerutan dan tonjolan. Di bawah mata terlihat ada bagian bengkak seperti pada orang-orang pecandu narkoba. Kancing bajunya terbuka sampai dada yang mulus seperti perempuan. Laki-laki itu lalu menyalaminya. Tangannya terasa halus dan lengket seperti perut kodok. Lelaki itu mempersilahkan masuk. Ia masuk ke kamar tidur. Di tengah kamar terdapat kasur besar dan juga meja. Di atasnya terdapat berbagai macam air berwarna dan majalah-majalah yang memuat potret-potret perempuan telanjang dengan berbagai pose yang menjijikan.

Lelaki itu memintanya untuk duduk. Ia berusaha untuk menunjukan sifat kelelakiannya saat bicara, namun malah terdengar cengkokan seperti perempuan. Lelaki itu bertanya banyak padanya, namun ia tak bisa mengendalikan diri. Kepalanya dilanda pusing yang hebat. Tubuhnya menggigil. Lelaki itu menuangkan lagi untuknya segelas minuman berwarna. Ia terpaksa meminumnya walaupun rasanya pahit, aneh, dan sangat keras, tapi lidahnya sama sekali sudah tak bisa merasa. Tambah lagi gelas kedua, ketiga dan seterusnya. Kemudian semua yang di hadapanya mulai bergoyang. Ia tak sadarkan diri lalu pingsan. Saat membuka matanya, lelaki itu dalam keadaan telanjang tanpa busana. Ia mengira ini hanyalah mimpi buruk. Ia melihat ke bagian bawah tubuhnya. Ternyata ia juga dalam keadaan telanjang. Ada semacam rasa sakit yang dirasanya di selangkangan paha. Ia sentuh dengan tangan. Jari-jarinya berlumuran darah kuning pekat. Ia terperanjat ketakutan. Ia mau berteriak, namun dua orang laki-laki langsung menyekap. Ia tak tahu dari mana mereka menutup mulut dan menutupi tubuhnya. Ia sekarang ada di jalanan sendiri. Lalu berjalan dan mencoba lari dari jiwanya.

***

Dua minggu penuh ia tak keluar kamar. Hanya sesekali saja. Tak seorang pun berani bertanya padanya. Mungkin jawaban dalam ujian malam yang ia beritahukan pada ibunya tidak sesuai harapan. Sang ibu masuk ke kamarnya. Potert-potret yang terpampang di dinding sudah tidak ada lagi sehingga meninggalkan bekas seperti kusta. Sang ibu mencoba untuk bertanya, namun merasa tak enak hati. Sang ibu berbisisk-bisik ke suaminya. Lalu keheningan menyelimuti saat sang ibu mendekatinya.

Di suatu malam ia mencoba menonton acara televisi untuk menghilangkan rasa bosan menyendiri. Tiba-tiba saja muncul lelaki puajaannya di layar televisi. Ia sangat terkejut, namun berusaha kuat untuk menyembunyikan rasa muak, marah, dan benci. Ia ingin sekali melempar layar televisi itu dengan vas bunga yang ada di atas meja. Penampilan lelaki itu sangat beda sekali. Pandangan matanya mengejek dan liar. Suaranya pecah-pecah dan kotor. Ia tak kuat melihatnya. Ia pun muntah. Sang ibu melirik ke suami dan berkata banyak hal. Sekarang ia tak dapat lagi menolak anjuran suami untuk membawa anak perempuannya ke rumah sakit.

Dokter yang bertugas saat itu adalah dokter spesialis penyakit perempuan. Ia masuk dan dokter mulai memeriksanya. Dokter tersenyum lalu berkata: “Tidak usah hawatir, ini biasa dialami oleh perempuan yang hamil muda. Dan karena ini adalah hamil yang pertama, nanti saya akan tuliskan resep khusus dan saya siap untuk menanganinya sendiri.” Sang ibu yang mendengar perkataan dokter langsung lunglai tak sadarkan diri. Perawat segera keluar menemui suaminya yang langsung lari masuk ke ruang periksa. Di ruang itu ia mendapati anak perempuannya seperti orang mati, sedangkan istrinya dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri. Sang ayah menanyakan kejadian yang menimpa istri dan anaknya. Dokter pun langsung menjawab: “Tidak usah hawatir Pak, istri Anda hanya terkena pusing-pusing biasa karena kegembiraan yang meluap.” Tak lama kemudian sang ayah keluar kamar setelah perawat meminumkan obat kepada istrinya. “Terlalu gembira? Gembira bagaimana?” Ujar sang ayah heran. “Senang karena anak perempuannya hamil.” Jawab dokter. “Haaa… haaa… haaa… hamil? Bagaimana dia bisa hamil?” Ia menengok ke arah anakanya yang masih terkulai tak sadarkan diri.

***

Di kantor polisi ia ceritakan peristiwa yang menimpanya itu. Polisi mencatat semua pengakuannya walaupun rasa takut menjalari tangan yang sedang menulis dengan gemetaran. Kemudian perempuan itu dititipkan di rumah sakit lembaga pemasyarakatan. Ia beri tahu semua orang tentang kejadian yang dialamiya. Awalnya mereka mendengarkan namun segera mengabaikan. Di bibir mereka tersungging senyum, senyuman penuh ejekan. Kabar ia di rumah sakit tentu sampai juga ke telinga lelaki pujaannya, namun tak seorang polisi pun berani memanggilnya untuk proses penyelidikan, karena dia adalah orang yang sangat terkenal dan polpuler. Ya, popularitas kadang membuat lingkaran silau segan dan pesona, sehingga dalam kontrolnya manusia sering lupa kalau orang-orang terkenal juga adalah manusia biasa, dan mungkin saja mereka lebih hina dan rendah dibanding lainnya.

Dalam penjara ia mengetahui kalau orang-orang di luar sepakat menganggapnya sebagai pelacur profesional yang menggoda setiap lelaki terkenal. Bahkan para waria pun membuat cerita-cerita bohong dari hayalan sendiri tentang perempuan itu. Ia mulai mogok makan dan menyendiri sepanjang waktu. Kesehatannya memburuk, matanya tambah sendu. Aku adalah satu-satunya orang yang ia temui. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat sedang duduk terdiam di sampingku. Tiba-tiab ia berdiri dan teriak-teriak di tengah kerumunan orang yang melihat kami berdua. “Aku perempuan terhormat. Kau yang memperkosaku! Aku bukan pelacur! Katakan pada mereka kalau aku bukan pelacur. Aku bersumpah padamu aku bukan pelacur! Ah, bagaimana lagi aku harus meyakinkan kalian semua. Ya, aku bisa.” Ia ucapkan kata-kata itu sembari mengangkat rok sehingga terlihat bagian paha dan selangkangan. Beberapa perempuan langsung lari berusaha menutup aurat yang sengaja diperlihatkan. Namun ia menolak dan sedemikian rupa melawan.

Aku berjalan menelusuri pintu masuk bangunan yang mereka namakan rumah sakit. Perasaan sedih dan benci menjalari jiwaku. Begitu juga rasa ingin balas dendam begitu kuat dan merongrong pikiranku. Seorang perempuan berkata: “Dia itu pelacur yang berpura-pura gila biar dikasihani!” Aku ingin sekali menampar muka perempuan itu. Di hari berikutnya aku mengunjunginya kembali, namun aku tak bisa bertemu. Katanya ia sudah meninggal. Dalam laporan mereka menuliskan kalau ia terkena penyakit gila akut dan gantung diri dengan seprai kasur. Aku berkata: “Bohong! Itu pembunuhan, bukan bunuh diri!” Perawat itu tak mengerti apa-apa. Tanpa peduli dan tanpa ragu aku lemparkan berkas yang berisi laporan meninggalnya itu.

Peristiwa yang menimpa temanku ini menjadi perbincangan halayak ramai. Perkiraanku kasusnya tidak akan berlalu begitu saja. Orang-orang terus berkomentar tentang kasusnya, seperti tingkah polah mereka yang berbondong-bondong mengadu ke LSM-LSM yang menawarkan produk-produk najis dan tak berguna. Mereka menulis dan menulis. Para makelar, pejabat, pedagang, pelacur, semuanya ikut ambil bagian. Sampai-sampai imam masjid pun merasa perlu berkomentar dan menyayangkan peristiwa itu terjadi. Malahan dia berfatwa kalau perempuan itu sudah kafir karena telah melakukan bunuh diri. Sang imam juga tidak lupa berdoa dengan harapan akhir hayatnya sebagai pelacur gila yang bunuh diri dapat mengakhiri murka Tuhan atas kota yang suci nan mulia ini.

*Diterjemahkan dari buku Malaf Majnun (Dokumen Si Gila) karya Mahdi Emberesh 1991.
Read More

TERIMA KASIH IBU

00.28 | ,

TERIMA-KASIH..IBU


IBU...rambutmu kini sudah mulai memutih
Kulitmu tak lagi kencang
Penglihatanmu tak lagi terang
Jalanmu kini sudah mulai goyang

Namun..apa yang terlihat
Semua itu tak pernah engkau rasakan
Semua itu tak pernah engkau pedulikan
Aku paham, semua itu demi anakmu

Sepanjang jalan engkau mengais rejeki
Sepanjang waktu engkau berhitung
Berapa laba kau dapat hari ini
Tuk membayar semua letihmu

Engkau tak lagi dapat membedakan
Mana siang, mana malam
Semangat mengalahkan gemetar kakimu
Dan segala rasa lelahmu

Ini semua...untuk siapa?
Hanya untuk anakmu
Anak yang engkau impikan menjadi orang hebat
Mencapai setumpuk asa

IBU...sampai kapanpun,
Anakmu tak kan pernah lupa
Atas semua jasa, do'a dan derita
Keringat yang engkau cucurkan

IBU...engkau sudah terlalu besar, berkorban
Hanya surga yang pantas membayar tulusmu
Hanya Tuhan yang pantas menjagamu
Dunia dan akherat...

IBU...
Anakmu kan selalu merindumu
Do'a di setiap hembus nafas ini
Terima kasih...IBU, untuk semua ikhlasmu

Read More

PERJUANGAN IBU UNTUK ANAKNYA

00.23 | , ,



Sebuah kisah lama yang patut dijadikan renungkan bagi kita semua, agar  kita dapat  mengingat dan memahami betapa besarnya pengorbanan seorang ibu buat anak-anaknya.
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taipeh tahun berapaan udah lupa.  Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.
Ada seorang pemuda bernama A be ( bukan nama sebenarnya ).
Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool.
Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewek-cewek jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.
Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain.  Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya A be.
Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be.
Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya.
Sang Ibu semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. Abe mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan Abe. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik.
Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya yang masih berusia 14 bulan dari musibah kebakaran.
Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, wanita itu menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup  dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.  Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya.
"Yang sudah ya, sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa jalan-jalan Ibunya untuk berbelanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap tidak memperdulikannya, bahkan dengan perasaan bangga dia  memperkenalkan Ibunya, jika ada orang yang menanyakan padanya. Suatu sore, ketika A be mengajak ibunya mampir ke sebuah kedai minuman, setelah mereka berdua pulang dari berbelanja di supermaket.

Seorang pria paruh baya menghampiri A be, ketika A be akan memesan teh jahe hangat buat ibunya. Dengan wajah  heran dan penasaran dia bertanya pada A be, "Siapa wanita kau bawa itu, nak  ? pembantumu-kah, dia? kenapa kamu tampak hormat padanya ?" .
"Wanita yang mana tuan maksud ?" , A be balik bertanya pada pria itu.
"Wanita yang duduk di sebelah kamu ?" , sambil menunjuk kearah tempat sang Ibu .
"Kenapa bapak menanyakan hal itu pada, saya ?", tanya A be kembali dengan heran .
" Oh ya, perkenalkan saya Koh Bun, pemilik kedai ini, "Biasanya pada jam sore hari seperti ini, para suami yang mengajak istrinya atau pria muda yang mengajak kekasihnya bercengkrama menikmati suasana sore hari di kedai kami ini sambil minum teh jahe atau kopi hangat, tapi aneh kamu malah mengajak wanita tua yang..ehm... maaf..buruk rupa , menurut saya, apa itu bukan hal yang aneh ? " ucap  pria  paruh baya ini masih dengan tatapan mata heran ke pada A be.
"Apa tuan keberatan kalau saya mampir ke kedai ini dengan mengajak  wanita  tua yang buruk rupa ?, jika begitu saya, akan segera pergi  dari sini,"  ucap A be kembali dengan nada agak tersinggung.
"Maafkan ucapanku, anak muda, mohon jangan tersinggung, aku tidak melarang siapapun yg datang ke kedai ini, tapi saya hanya penasaran, kenapa kamu begitu santun dan hormat pada wanita itu ?, tolong jelaskan pada saya, agar saya tidak penasaran ?" ujar Koh Bun tentang rasa penasarannya pada A be.

" Tuan Koh Bun...wanita yang duduk satu meja dengan saya itu adalah wanita yang paling saya hormati dan saya cintai lebih dari siapapun di dunia ini. Dia bukan pembantu saya, juga bukan kekasih saya ataupun istri saya", ujar A be. Tentu saja jawaban A be semakin membuat penasaran Koh Bun  (pria paruh baya ini), Lalu siapa dia ?, Oh..saya tahu..dia istri majikan kamu ?", tebaknya.
"Buka...Dia itu adalah Ibu-ku tercinta , dia adalah  Pahlawan dalam hidup-ku." ucap A be dengan bangga  pada  pria paruh baya ini, selanjutnya oleh A be diceritakanlah pada Koh Bun sang pemilik kedai ini, tentang peristiwa kebakaran yang menimpa  sang ibu, " Dahulu wajah ibu-ku sangat cantik, tapi sekarang Ibu-ku memiliki wajah buruk seperti itu ...karena menyelamatkan aku, waktu aku masih berusia di 14 bulan, dari bencana kebakaran di rumah kami  saat itu", tutur A be dengan ucapan lirih sedih.
" Hampir separuh tubuh ibuku hangus, terkena luka bakar, karena melindungi  aku, dia menutupi tubuhku dengan selimutnya sambil memeluk tubuhku dengan erat, agar aku terhindar dari kobaran api yang membakar seluruh ruangan rumah kami."
"Ibu-ku tidak perduli akan sengatan api yang membakar tubuhnya, baginya,yang utama adalah nyawaku, anaknya, dia tidak perduli akan panas api yang mengoyakan kulit indahnya, ibuku tetap berlari menerobos kobaran api, sambil tetap memeluk tubuhku yang terbungkus kain selimutnya ,  dia tetap berusaha meloloskan diri, dari runtuhan bangunan rumah kami.
Akhirnya , kami berdua selamat, meski harus dibayar oleh ibuku, dengan cacat di tubuhnya seumur hidup,"    begitu jelas A be kepada Koh Bun, dengan nada bergetar menahan  pedih di hatinya.
Pria paruh baya itu seakan tercekat, tidak menduga ketika mendengar cerita A be, sambil mata berkaca-kaca  menatap A be, lalu berbisik,  "Maafkan atas kelancanganku tadi, anak muda dan Tolong kenalkan aku pada Ibumu, ?' begitu pintanya, A be pun memperkenalkan pria paruh baya ini pada ibunya. Sambil berlutut hormat dan menjabat tangan Ibu Abe,ia berkata, " Ijinkan saya mencium tangan ibu ?"  pintanya pada sang Ibu.
" Kenapa anda ingin mencium tangan saya, yang jelek ini ? " tanya ibu si A be  dengan tatapan heran,  diliriknya A be  meminta persetujuan dari anaknya, dan dibalas oleh A be dengan senyuman dan anggukan, tulus pada wanita tua ini.

"Ketika saya mendengarkan cerita putra ibu pada saya  tadi, rasanya sungguh kehormatan bagi saya jika bisa berkenalan dengan Ibu, " jelas Koh Bun sang pemilik kedai ini agar  Ibunda si A be tidak bingung akan permintaannya tadi. Denga tatapan masih ragu,  oleh sang Ibu  disodorkan lah tangan kanannya  pada Koh Bun, lalu dengan rasa hormat  dikecupnya tangan  sang ibu tersebut.
"Sayang sekali...ibu saya sudah meninggal pada saat saya tidak berada disadmpingnya, jadi saya belum sempat mencium tangan beliau ", ucap Koh Bun dengan mata berkaca-kaca seolah mengenang kembali ibundanya yang telah tiada.
"Tuan Koh Bun, Doakan lah Ibu anda yang sudah tiada itu. Karena sesungguhnya , Doa dari anak yang  berbakti pada sang Ibu dalah pintu surga bagi Ibundanya.., begitu pula sebaliknya..," saran ibu si A be. Tak ayal meneteslah air mata Koh Bun (pemilik kedai itu) mendengar saran dari ibu Abe.
"Sungguh Ibu adalah seorang wanita yang berhati malaekat, semoga ibu selalu diberi  kemuliaan oleh yang kuasa ," seraya dia berdiri dan memberi hormat  pada sang ibu, dan dibalas dengan senyum tulus oleh sang ibu. A be-pun hanya terpaku diam berkaca-kaca menatap ibunya yang tercinta..mendengar ucapan ibunya kepada pria pemilik kedai minuman itu, Tak lama kemudian, Koh Bun si pemilik kedai, menghampiri A be dan menjabat tangannya, "Anak Muda, kamu..sangat beruntung memiliki Ibu seperti dia, jaga dan sayangi dia selamanya , pasti pahala surga imbalannya. " Terimakasih, atas saran anda akan selalu saya  ingat ." ucap A be sambil tersenyum. Tak lama kemudian A be dan ibunya pun pulang ke rumah.

Beberapa  hari berikutnya ,  tersiarlah berita dari mulut ke mulut, tentang kisah perjuangan ibu si A be pada masa lampau, sebuaj kisah seorang Ibu yang berjiwa pahlawan dan berhati malaekat. Peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik.
Ketika masyarakat umum membaca kisah ini di media cetak,  beberapa dari merekapun sempat menangis karena mereka teringat ibunda mereka dan tidak sempat bersujud mohon maaf pada  sang ibu, hingga  saat sang bunda meninggal.

Buat para sahabat yang masih punya Ibu atau Mama atau Mami di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya. Ingat  doa dari  sang ibunda adalah pintu syurga bagi kita .



Read More

IBUKU SAYANG

00.20 | ,



Ibu...!
Aku tahu...
Semua letihmu itu tulus
Dan...akupun tahu
Bukan apa-apa yang engkau ingin
Engkau tak pernah inginkan apa-apa

Ibu...!
Dulu engkau pernah bilang
Cepatlah besar anakku !
Jadilah engkau orang besar
Yang membesarkan hati Ibu

Ibu...!
Semua hebatku
Tak kan pernah ada
Tanpa ikhlas pengorbananmu

Ibu...!
Sabdamu adalah do'a
Do'a yang nyaring terdengar
Dan pasti... didengar !

Bukan gelimang harta tuk membalas
Bukan pula, tahta dan mahkota
Bhakti, taat... menjaga hati
Itu saja...cari dan mesti kau beri
Read More