MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

Perjuangan ingin menjadi orang tua

17.37 | , ,

tread ini aku dapat dari link sebelah, sangat menginspirasi. semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita ini.
 
Tulisan ini aku buat setelah 13 tahun mengarungi rumah tangga dengan suamiku dan setelah aku divonis gagal untuk yang kedua kalinya menjalani program bayi tabung.

Aku tergugah untuk menuliskan crita ini karna berat rasanya untuk bercerita kepada orang lain dengan bertatap muka, karna aku pikir tidak semua orang akan empati terhadap ceritaku ini dan merasakan apa yang aku & suamiku rasakan, tapi di kepalaku ingin rasanya aku mengeluarkan cerita ini, karna rasa sedih, kecewa dan rasa sakit di hati dan di tubuh ini harus dikeluarkan.

Aku merasakan seperti ini bukan karena kecewa terhadap takdir & keputusan Allah terhadap kami, Insya Allah kami ikhlas dengan keputusan Allah ini & kami yakin ini yang terbaik untuk kami.

Aku ingin bercerita bermula dengan perkawinanku dulu, aku termasuk wanita yang menikah tidak terlalu tua, saat menikah usiaku masih 26 tahun, namun saat menikah aku masih berstatus sebagai mahasiswi karna melanjutkan pendidikan sambil bekerja.
Dengan kata lain saat menikah dulu, aku belum ingin punya keturunan terlebih dahulu, dan ingin kuliah aku selesai dulu.

Namun setelah selesai kuliah, setahun lamanya kami berusaha secara alami tak kunjung jua diberikan keturunan.
Dengan kondisi seperti itu, aku & suami mulai melakukan pemeriksaan secara medis tentang kondisi kesehatan reproduksi kita. Dan pemeriksaan dilakukan di 2 RS ternama di jakarta. Dan dari hasil pemeriksaan dikatakan bahwa aku sehat secara reproduksi & suamipun masih dalam kondisi yang baik, hanya kurang jumlah dan itupun tidak terlalu significant dan kondisi suami berangsur-angsur membaik setelah diobati oleh ahli andrologi.

Dengan hasil pemeriksaan seperti itu, kami sangat bersyukur, dan kamipun dianjurkan untuk bereproduksi secara alami dengan bantuan obat-obatan.
Namun setelah hampir 3 tahun lamanya kami berobat belum mendapatkan hasil yang kami inginkan, sampai-sampai aku dan suami sudah bosan meminum obatnya.
Akhirnya dokter menganjurkan kami untuk inseminasi, namun saat itu karna kesibukan suami yang kerja diluar kota dan mungkin rasa hopeless kami terhadap pengobatan medis, akhirnya rencana itu tidak kami lakukan.

Dan dengan informasi dari berbagai pihak, keluarga, teman untuk berobat alternatif, kami ikuti setiap cara pengobatan alternatif. Jadi bila ada yang memberitahu dengan dipijit perutnya, kakinya, minum ramuan, minum air putih doa, diobati dengan media telur, pokoknya apapun yang masih di koridor agama kami, kami lakukan. Sampai akhirnya aku dinyatakan hamil secara alternatif.
Namun setelah berbulan2 lamanya aku hamil, perutnya membesar tapi aku tak kunjung2 juga melahirkan.
Sampai akhirnya aku mengakhiri kehamilanku dengan memeriksakan diri ke medis.
Dan ternyata setelah di USG dari yang termurah sampai yang termahal.... :), aku dinyatakan tidak hamil, dan pada USG yang termahal perutku berisi miom dan polip, yang awal aku periksa tidak pernah ditemukan. Perjalanan USG dari satu tempat ke tempat lain, aku selalu merasakan ocehan orang2 medis bahwa aku hamil psikologis, dengan kata lain aku sakit jiwa karna ingin hamil jadi perutnya membesar. Ingin rasanya aku berteriak saat di vonis seperti itu, aku ingin mengatakan bahwa bkn pikiran & otak aku yang buat perutku besar, aku memang ingin hamil & punya anak, namun bukan berarti pikiranku dah nggak waras. Aku juga nggak ngerti kenapa bisa seperti ini.
Akhirnya aku berobat medis kembali dan polip aku diangkat, namun miom tidak diangkat, karna tidak terlalu mengganggu rahim aku jika aku hamil. Dan setelah pulih, aku rajin berolahraga, yang akhirnya kondisi tubuh aku kembali seperti semula

Urusan hamil aku selesai dengan cara medis tadi, namun karena kejadian itu aku menanggung perasaan yang sangat berat sekali menurut aku.
Karena aku harus mengalami omongan orang tentang aku macem2, sampai akhirnya aku memutuskan pindah kerja tanpa kabar berita yang jelas, yang pasti aku malu untuk bertemu & ditanyakan kondisi aku oleh orang lain.
Namun ditempat kerja yang barupun aku mengalami omongan macem2 juga terhadap kehamilanku itu, dibilangnya aku hamil lemak, dan kurus kembali setelah sedot lemak... :). Malah dikabarkan aku hamil gaib & anakku hilang oleh tetangga & lingkungan tempat tinggal orang tua & mertuaku karena kehamilan aku itu. Dan akibat kondisi itu juga aku sudah tidak lagi memperdulikan karier aku yang sedang menanjak di satu instansi. Karena saat itu aku berpikir, hidup itu pilihan, jabatan itu amanat dari Allah, kapanpun Allah ambil itu bisa terjadi & pilihan serta prioritas aku setelah aku menikah adalah membina keluarga sakinah, mawadah, warohmah dengan suamiku, yang aku kenal & aku cintai sejak aku kelas 1 SMA.

Setelah badanku pulih, kembali seperti dulu, kurus lagi, Alhamdulillah reda jugalah omongan orang lain terhadap aku, Subhanallah banyak juga fans aku yaa.... :)
Dan setelah itu karna umurku mencapai 35 tahun, kami memutuskan kembali untuk berobat secara medis yang menurut kami dulu belum optimal kami lakukan. Akhirnya kami mengikuti inseminasi di salah satu rumah sakit khusus infertilisasi terkenal di jakarta, namun gagal, sedih seeh tapi nggak berlarut2, tapi untuk memutuskan berobat medis kembali karena kesibukan suami diluar kota kembali akhirnya urung dilakukan lagi.

Dari situ aku & suami mulai pasrah untuk tidak ingin dulu memikirkan punya anak, kami perbanyak berdoa & sodakoh dulu. Namun kadang lingkunganlah yang membuat kita jadi sakit, kadang kalo bertemu teman, keluarga atau kerabat, selalu menanyakan, punya anak berapa?, kok belum punya anak?, nggak brobat?, Kemana aja dah umur segini blom punya anak?, Anak gw aja dah SMP/SMA, masa lw blom punya anak?, disana ada tempat berobat ini, itu, orang pada berhasil, makannya banyak2 sodakoh.... :). Mungkin menurut orang lain itu basa basi yang biasa, namun menurut kami itu adalah kata2 yang menyakitkan, karena rasanya kami tidak diam untuk mendapatkan keturunan, rasanya kami sudah berkorban jiwa, raga, materil untuk mendapatkan keturunan, tapi karna Allah belum mempercayakan pada kami untuk punya keturunan, makannya kami belum punya anak saja. Dan kadang2 suamiku bila mendapatkan pertanyaan atau pernyataan sprt itu, dia selalu marah terhadap orang yang bertanya, nggak ngeliat yang dimarahinnya saudara, teman maupun kerabat, karena suami tau persis perjuangan aku untuk menjadi Ibu.
Dengan kondisi demikian, sampai-sampai aku tercetus pikiran sesat untuk berpisah dengan suami, tercetus pikiranku, bila aku menikah dengan orang lain, aku akan mendapatkan keturunan karena organ reproduksiku yang sehat atau suamikupun akan punya keturunan juga jiga menikah dengan orang lain. Namun Alhamdulillah Allah masih menunjukkan jalan yang terbaik untuk kami & kami masih bersatu.

Usaha di ataspun belum membuahkan hasil sampai akhirnya usia aku hampir mencapai 38 tahun, kami mulai berpikir kembali untuk berobat secara medis dan kami termotivasi juga dengan teman aku yang sama usianya dengan aku berhasil melalui program bayi tabung. Akhirnya aku kembali ke RS yang dulu aku melaksanakan inseminasi, namun saat USG, ditemukan miom aku mulai membesar & letaknya strategis, ditengah fundus rahim, yang artinya berresiko mengganggu embrio nempel di rahim, dan dokter menganjurkan aku untuk operasi. Pantas saja akhir-akhir itu bila datang PMS, perutku terasa sakit, dan akan hilang bila aku meminum produk penghilang rasa sakit.
Setelah diberitahu seperti itu, di kamar mandi aku menangis, bknnya bayi yang kami dapatkan setelah bertahun2 kami berobat tapi malah miom yang aku dapatkan....Innalillahi....
Karena rasa sedih & tidak percaya, akhirnya aku ganti RS dan dokter, ternyata dr keduapun menyatakan sama. Akhirnya dengan berat hati aku di operasi. Oh yaa saat operasi, teman kerjaku ada yang bilang, miom aja mesti di operasi, kamu laparatomi atau laparascopy, kok hrs istirahat segala, umur segini baru berobat, kmaren kemana aja?. Jujur untuk aku pertanyaan & pernyataan itu menusuk hati, mendapati kondisi sprt ini aja aku nggak sanggup, ini dianggapnya aku mengada2, Allahu akbar.
Setelah operasi cobaan lain aku rasakan, aku kehilangan papahku yang sangat aku kagumi & sayangi yang selalu mendorong aku & suami menegakkan keluarga yang samara, saat kehilangan papah aku mengalami perdarahan hebat, karena stress yang aku rasakan. sebln kehilangan papah, aku kehilangan bapak mertua aku.

Setelah kondisi datang bulanku stabil, aku melakukan therapi oral & suntik untuk mendapatkan anak. Namun selama setahun belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Aku hanya sekali pernah telat menstruasi & dokternya menyatakan hamil, namun gugur kembali karna awalnya aku tidak tau hamil & beraktivitas seperti biasa. Sedih, saat melihat embrio gugur ditanganku waktu aku BAK, namun kesedihan aku itu tidak berlarut2, aku & suami terus berjuang, sampai akhirnya dr menyarankan aku bayi tabung. Kami waktu itu setuju, karna drnya bilang bahwa biayanya hanya mencapai kurang lebih 40 jtan. Dan kami telah sedia 50 jtan, namun berjalannya wkt, ternyata bayi tabung aku mencapai 80 jt dengan short protocol, karena obat stimulus ovum aku naik terus dosisnya, BT pertama beta HCG aku sangat rendah yang artinya hamil tapi kondisinya tdk baik, yang akhirnya aku mengalami embrio gugur, Sedih, sakit, panas di perut aku rasakan saat itu, tapi tidak berlarut2, 3 bln kemudian aku mencoba bayi tabung kedua, di tempat yang berbeda karna lebih murah, dengan long protocol hanya habis 45 jtan, namun jika dihitung-hitung dengan transport & penginapan, nilainya mencapai hampir 70 jtan. Kegagalan bayi tabung yang pertama membuat aku lebih cemas di bayi tabung kedua. Oh yaa aku ingin sampaikan setiap aku mau USG, semenjak aku dinyatakan hamil psikologis oleh dokter, aku selalu cemas, badan aku dingin, hati deg2an, sampai2 mau OPU pertama kali tensiku naik drastis. Aku seperti terkena gangguan jiwa, takut mendapat berita buruk dari dokter yang memeriksa aku. Dan di bayi tabung kedua, rasa itu semakin tinggi, dari mulai aku USG kontrol ovum sampai ET aku selalu cemas. Dan suamiku sangat tau itu, sehingga dia selalu memegang tangan & mencium kening aku bila aku akan di USG atau dilakukan tindakan lain. Dan memang karena umur aku, dari mulai BT 1 dan BT kedua, kondisi ovum aku kurang banyak dan memerlukan stimulus obat yang panjang dan tinggi dosisnya, alhasil BT aku harganya lebih mahal, karena aku harus membeli obat stimulus ovum yang di Indonesia super mahal harganya. Dan aku sering menghilangkan kecemasanku itu dengan travelling. Oh yaa BT aku kedua di malay, jadi aku sering manfaatkan waktu periksa ovum dengan travelling juga. BT aku kedua aku harapkan berhasil, selain dukungan moril dari keluarga aku & suami, dukungan materilpun mereka berikan kepada kami, karena kami memang bukan termasuk orang yang berlebihan, juga embrio yang dihasilkan & ditanam di perut aku lbh byk & secara kualitaspun lbh baik dari BT 1. Namun Allah berkata lain, kami masih belum mendapatkan kepercayaan juga untuk punya keturunan. BT aku keduapun nilai beta HCGnya turun terus, walaupun aku tidak mengalami gugur embrio sprt BT 1, namun dengan nilai beta HCG yang turun aku dapat merasakan BT aku yang kedua juga gagal lagi. Disini aku baru melihat suamiku berkaca2 matanya, setelah sekian banyak ujian kegagalan punya anak yang kami alami.

Kegagalan BT kedua ini buat aku sudah tdk lagi mengeluarkan air mata, karena yang aku rasakan sudah campur aduk. Yang pasti aku belum sanggup memberikan kabar ini kepada orang tua, keluarga & teman kerja. Aku nggak tega & nggak ingin membuat orang tua & keluargaku sedih & aku nggak mau lagi menanggung omongan macem2 org lain thdp aku. Yang pasti, aku & suami bkn give up untuk berusaha mendapatkan keturunan, namun kalo untuk mencoba BT lagi aku tidak sanggup. Bukan secara fisik atau materi, walaupun kami bkn org mampu, namun selama kami berusaha, Allah selalu kasih jln rezeki terhadap kami. Yang membuat aku nggak sanggup adalah mental aku, rasa cemas yang selalu menghantui aku dan cemas menghadapi berita setiap tindakan, juga cemas terhadap omongan orang lain. Oh yaa, selama aku BT aku cuti & sering izin, dan itu menimbulkan rasa iri thdp orang lain, menurut aku wajar saja, karna aku memang izinnya sdh terlalu byk.... :), Namun kadang kondisi sprt aku, yg selain sdh mengalami kegagalan berkali2 dan respon hormon jg, aku sedikit lbh sensitif. Jadi jika ada omongan yg aneh dari teman kerja, aku suka merasa sedih aja, sprt omongan aku travelling di sela2 wkt priksa ovum, dianggapnya bkn dalam rangka program, sedih aku mendengarnya. Padahal aku travelling juga slain refreshing, memanfaatkan wkt, juga untuk mengurangi kecemasan aku, Dan alasan itu jugalalah aku tidak mau curhat terhadap org lain secara bertatap muka, karna org itu hanya menilai sepotong2 atau tampilan luar aja. Oh yaa, tampilan aku memang orgnya ceria, jd org pasti tdk akan menyangka kalo aku rapuh, cemas jika dipriksa atau dilakukan tindakan secara medis.

Oh yaa kegagalan BT kedua kami, kata yang pertama kali suami & aku ucapkan Alhamdulillah, kami bersyukur atas smua ketetapan Allah kepada kami, dan kami yakin ini jalan kami yang terbaik.
Kejadian ini membuat kami berpikir, saat ini kami istirahat dulu untuk memikirkan punya anak, dan jika Allah mengijinkan kami punya anak, Allah pasti kasih untuk kami, dengan jalan, waktu dan cara yang hanya Allah yang Maha Tahu. Saat ini target kami, kami ingin umroh dulu, meminta sm Allah ditunjukkan yang terbaik untuk kami sekeluarga.

Hikmah yang kami dapatkan dari kegagalan2 kami, kedekatan aku & suami semakin intim & kompak, kami seperti tim yang saling support, pernah merasakan calon-calon anak kami hidup di rahim aku, walaupun hanya beberapa hari atau beberapa minggu, aku lebih tau lagi keluarga, teman, rekan kerja yang mensupport kami dengan tulus, Aku lebih tau lagi susahnya menjadi seorang Ibu, mudah2an aku & suami lbh bisa lagi menghargai, mencintai & menyayangi ortu kami, dan mudah2an hati kami lebih kuat lagi mendengar basa basi orang lain.... :)

Semoga cerita aku ini bisa menjadi inspirasi untuk org lain, intinya yg ingin aku sampaikan :
1. Bila menginginkan suatu tujuan, jangan ditunda2, karna waktu berjalan terus
2. Tugas manusia hanya berusaha & berdoa, urusan berhasil sdh kuasa Allah SWT
3. Anak adalah harta titipan Allah, belum / tidak dikarunia anak bkn berarti akhir dari segalanya
4. Untuk yang sudah punya keturunan, jaga amanat Allah dengan sebaik2nya, karena tidak sedikit pengorbanan org lain untuk mendapatkan amanat Allah tsb

Terakhir, terima kasih aku udh dikasih kesempatan buat nulis di blog ini, jujur stlh nulis ini, hati aku agak sedikit tenang, karena mungkin keluar semua unek2 aku, mohon maaf jika selama dalam usaha aku & suami berjuang untuk mendapatkan keturunan telah merugikan orang lain, baik secara fisik, emosi & jiwa, dan semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT.....Aamiinnn YRA
Taurus In Motivation

0 komentar:

Poskan Komentar