MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

OBROLAN TENGAH MALAM

04.51 | ,


I’m weak, I’m not as strong as you think

Sms dari seorang sahabat yang tertera dilayar ponselku itu tiba-tiba membuatku sedih. Kenapa harus menyerah? Kenapa pula harus pasrah diubah oleh keadaan? Kemana larinya ketangguhan yang selalu aku banggakan itu? Dan, rasa sedih ini ternyata begitu mengusikku. Sampai kemudian disuatu malam,

“Menangislah, jika itu bisa mengurangi bebanmu…..”
“Sudah. Bahkan dua malamku berturut-turut telah aku habiskan untuk menangis. Dan kamu lihat, beban itu masih terasa berat dipundakku.”
Aku cuma tersenyum mendengar kalimatnya, kubiarkan sahabatku ini mengekspresikan segala kesedihannya.
“Sepertinya enak ya, melompat dari atas gedung tinggi, melayang-layang…. bebas…. dan brukk! Selesai semuanya.”
Aku masih tersenyum, kupandangi wajah cantik dihadapanku ini, “Kamu yakin?” Tanyaku dengan nada lembut.
“Yakin? Maksudmu?”
“Yaa, seperti yang kamu bilang barusan, bahwa melompat dari gedung tinggi akan menyelesaikan semua masalahmu?”
“Iya lah. Mana ada orang yang selamat jatuh dari lantai 7? Kalau gue mati kan semua masalah itu juga akan ikut mati wie.”
“Benar, dengan catatan jika kamu mati. Tapi bagaimana kalau ternyata kamu hanya patah tulang, gegar otak, atau bahkan kombinasi keduanya? Can you imagine that? Sahabat, mati itu adalah hak Tuhan sepenuhnya, bukan hak kamu atau siapapun juga. Jika Tuhan tidak menghendaki kamu mati saat ini, meskipun kamu melompat dari lantai 10 sekalipun, pasti Tuhan punya cara sendiri untuk menyelamatkan kamu. Tahukah kamu, bahwa tindakan bodoh hanya akan menghasilkan hal-hal bodoh pula?”

Sahabatku terdiam sesaat, sejenak kemudian bahunya terguncang hebat. Dia menangis.
“Kamu bisa berkata demikian karena kamu tidak harus membanting tulang menghidupi seorang anak dan seorang nenek yang sakit-sakitan. Bahkan aku yakin kamu tidak pernah merasakan sakitnya dianiaya oleh orang yang kamu harapkan bisa melindungi kamu…. ”

Kurengkuh bahu yang berguncang makin hebat itu dan kubiarkan airmatanya membasahi baju tidurku. Aku tahu, saat ini sahabatku hanya butuh tempat untuk mengekspresikan segala kesedihannya.Untuk itu aku memilih mengunci mulutku…

Beberapa saat kemudian, setelah dia berhasil menguasai emosinya dan setelah tisu yang aku sodorkan habis terpakai untuk menghapus airmatanya, dia menatapku. Tatapan yang masih menyisakan kesedihan mendalam itu sedikit tersamarkan dengan senyum manisnya.

“Thanks Wie.”

Aku tersenyum dan mengangguk pelan, kutepuk bahunya mencoba untuk memberikannya penguatan.

“Sepertinya enak sekali jadi kamu ya Wie. Disayangi banyak orang, merdeka banget, dan hidupmu sepertinya jauh dari masalah…”

PLAK! Tiba-tiba aku merasa tertampar dengan ucapan sahabatku barusan. Benarkah hidupku seindah yang dibayangkannya? Teringat kembali kesedihan-kesedihan yang pernah singgah dalam hidupku. Kesedihan yang banyak menyita airmata dan hari-hari indahku. Bahkan aku pernah merasakan duniaku hancur, ketika harus kehilangan tiga orang yang sangat berarti dalam hidupku dalam waktu yang berdekatan. Menghabiskan setiap malamku dengan bersedih, merenungi nasib, dan terpekur sendirian diujungnya waktu. Kemudian dipagi harinya aku harus tetap tertawa, dan menyembunyikan segala kesedihan diri dari setiap mata yang memandang. Sampai kemudian aku menjadi tersadar bahwa ternyata aku tidak setangguh yang dikatakan orang, memang tidak ada airmata yang keluar dari mataku, tapi menghabiskan setiap waktuku hanya untuk menikmati kesedihan yang tiada guna, adalah kecengengan yang sesungguhnya!

Kuhela nafasku sedikit panjang, dan kuraih guling kesayanganku untuk mengalihkan rasa pedih yang tiba-tiba melintas.
“Kamu tahu nggak, apa yg sekarang aku rasakan?”
“Apa Wie?”
“Aku iri sama kamu. aku iri melihat betapa kamu bisa dengan begitu bebas mengekspresikan segala kesedihanmu dihadapan orang lain. Suatu tindakan yang belum pernah bisa aku lakukan hingga saat ini….”

Kalimat yang meskipun aku ucapkan dengan mimik wajah tersenyum tersebut tetap saja membuat sahabatku tercengang. Tiba-tiba dia meraih tanganku, ada binar kepedulian dimatanya.
“Kamu tidak perlu berlaku seperti aku wie untuk mengobati kesedihanmu, karena aku yakin tanpa berbuat seperti itu kamu pasti bisa melalui setiap cobaan. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan umatnya kan?”
“Exactly! Jadi, kamu juga tidak perlu mengakhiri segala kesedihanmu dengan bunuh diri kan? Toh Tuhan percaya kamu akan mampu melewati segala cobaan itu…hehe…”

Dan tawa kecilku tersebut ternyata disambut oleh sabahatku dengan tawa yang lebih keras. Sebuah tawa yang mengindikasikan ada beberapa kesedihan yang ikut terlepas bersamanya.

Malam semakin larut, kulihat sahabatku sudah tertidur dengan sangat pulas seolah-olah tidak ada beban yang sedang bergelayut dipundaknya. Aku jadi teringat pesan seorang guru,
“Jangan biarkan setiap orang yang datang padamu pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajahmu, kebaikan dalam matamu, dan kebaikan dalam senyummu.”

Hmm.. malam yang sungguh indah. Ada bahagia menyusup dalam hatiku meskipun malam ini, malam dimana sebenarnya ingin aku habiskan sendirian saja, aku harus berbagi bantal dengannya.

Tiba-tiba rasa rinduku akan seseorang datang lagi ……

0 komentar:

Poskan Komentar