MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

HUMA DI ATAS BUKIT

04.52 | ,

    
Di sana kutemukan bukit yang terbuka

    Seribu cemara halus mendesau

    Sebatang sungai membelah huma yang cerah

    Berdua kita bersama tinggal di dalamnya

Mendengarkan lirik ini, imajinasi saya pasti langsung membentuk sebuah gambaran : rumah mungil di atas bukit yang menghijau penuh bunga, Pohon-Pohon Cemara berdiri berjejer di sepanjang sungai kecil dengan air yang bening plus bebatuan di tengahnya. Tenang, damai, teduh, hijau, asri.

Saat masa kanak-kanak, saya membayangkan berlarian bebas di atas bukit, geluntungan, mencium aroma wangi bunga, mendengarkan gemericik air dan sesekali mainan air di sungai dengan riak ombak kecil tak berbahaya. Sungguh, gambaran surga buat saya…

Seiring dengan pertambahan usia, saya masih tetap menyukainya. Masih suka terdiam kala mendengar lagu itu diputar, menikmatinya, dan selalu saja imajinasi saya bermain kala lirik lagu bait kedua itu terdengar. Gambaran secara umum masih tetap sama seperti gambaran saat kanak-kanak, namun cara menikmatinya tidak lagi sama. Tidak lagi tergambar berlarian, geluntungan, dan mainan air. Gambaran itu sudah sirna, tergantikan dengan suasana yg lebih syahdu merayu : Menikmati udara pagi bersama yang terkasih, duduk-duduk di teras berdua sembari menikmati senja yang tak selalu jingga, tenang, syahdu, penuh kemesraan dan tawa yang menggoda. Tetap surga buat saya…

Entah karena lagu tersebut, entah karena saya memang sudah bosan tinggal di perkotaan yang penuh dengan kegembiraan semu, hingar bingar sepi, dan segala pertikaian yang melelahkan, maka kemudian saya benar-benar terobsesi untuk mewujudkan hunian yang demikian : membeli rumah di daerah yang masih hijau penuh dengan pepohonan besar, jauh dari hingar bingar perkotaan, tenang, dan (harapannya) damai. Semakin pelosok daerahnya dengan penduduk yang masih ramah, semakin saya suka.

Kenapa damai masih menjadi sebuah harapan?

Coba saja lihat sekeliling kita, banyak hal tidak mengenakkan terjadi diakibatkan karena kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Sebenarnya hati sudah lelah ingin menyudahi setiap pertikaian, baik pertikaian hati, maupun pertikaian rasa. Tapi atas nama gengsi semua itu tetap dipelihara. Begitulah… tapi selagi masih ada harapan, akan selalu muncul sebuah kemungkinan.

Saya masih terus mencari rumah idaman, masuk dari pelosok desa satu ke desa lainnya. Tidak mempedulikan tatapan heran kakak saya yang tetap setia menemani.

“Kamu tidak terbiasa tinggal di tempat sepi seperti ini. Kamu bakalan bosan. Pikirkan lagi lah…”

Kalimat itu sudah saya dengar entah untuk ke berapa kali, terkadang sempat terpengaruh juga, sempat melipir mencari rumah di daerah perkotaan. Namun gambaran “surga” itu ternyata lebih menggoda. Dan karena itulah saya tetap semangat mencari… Mungkin tidak harus sama persis seperti yang ada di gambaran imajinasi, mungkin saya hanya butuh tempat nan hijau yang relatif tenang, serta jauh dari hingar bingar. Mungkin juga karena saya hanya ingin menikmati kemesraan berdua bersama yang terkasih tanpa diganggu oleh keriuhan semu. Atau mungkin saja saya adalah sang egois yang ingin menikmati kebahagiaan berdua bersama lelakiku sendirian, tak hendak membaginya dengan yang lain.

Ah, biarkan saja semua kemungkinan itu melayang… karena seperti yang saya bilang, kemungkinan adalah buah dari sebuah harapan. Jadi, apa lagi yang harus dirisaukan?

    Nampaknya tiada lagi yang diresahkan

    Dan juga tak digelisahkan

    Kecuali dihayati

    Secara syahdu bersama

    Selamanya bersama…. selamanya

0 komentar:

Poskan Komentar