Blog Baru

Semua ada disini

Taurus Blogger

disini banyak artikel menarik

Wisata Yuk...!!!

Website tentang pariwisata di Malang Raya

Mari Memasak

Disini banyak aneka resep Masakan dan Minuman

Taurus Site

Blog Baru yang berisi motivasi

MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

Bangunkan AKu

08.02 | , , ,


Bangunkan aku

Bila September telah pergi

Sebab ia tak lagi ceria

Hanya balutkan luka

Perih menggores bayang nestapa

Kisahnya mengurai kenangan pilu

Tentang dia dan juga goresan takdir

Yang tajam menampar asa

Tinggalkan jejak-jejak basah di sudut mata


Bangunkan aku

Bila Desember telah tiba

Kuharap ia tak lagi kelabu

Hngga tak ada lagi lukisan

Siluet rona temaram kelam

Juga alunan tembang pilu merasuk


Karena aku begitu lelah

Memetik dawai melodi suram

Dalam bait-bait laguku
Read More

September Kelabu 2007

07.59 | , , ,


september kelabu 2007
air mata..
by cinta yang terabaikan
satria sebelum cahaya
ku ratapi kisahku dengan air mata
ku renungi kisah kita dengan tangis sendu
hati ini terlalu sakit karena cintamu
serpihan demi serpihan luka kurasa
kepingan demi kepingan tentang kita ku ingat..
semakin ku kenang semakin hancur hati ini..
tapi mengapa...
sampai sekarang aku masih bisa mencintaimu...??
bilur-bilur luka meleleh...harapan cinta mengental..
mencoba membudaki tangis...
dan menghapus air mata di pipi..
mengapa luka ini membuatku makin cinta..?
kapankah air mata ini menjadi air mata yang bening dan tak keruh..
kapankah derai tangisku terhenti...
menjadi setetes dan terakhir..
seharusnya aku tak perlu..aku tangisi...
harusnya aku kuat...
harusnya tak perlu ku pertaruhkan air mata ini..
hanya demi satu kenangan...dan masa yang telah pergi..
tapi mengapa...mengapa sampai sekarang aku tak bisa melupakan nya ?
mengapa terus jatuh...?dan menumpah air mata yang perihkan hati ini...
hatiku kini menjadi perasa...
air mata ini jatuh....jatuh untuk cinta yang telah mengabaikan ku,
mataku yang menjadi saksi bagaimana...air mataku jatuh untuknya..
air mataku terus jatuh....terlalu banyak ..dan berderai..
terlalu lama menetes,..dan terus menumpah..
aku sendiri bersama keluh kesah ku..
yang tenggelam oleh suara tangisku..
bersama serpihan hati yang akan aku bawa,
sampai...aku mati...
================
gray september 2007
tears ..
by love the neglected
satria before the light
lamunkan my story with tears
I reflect on our stories with mournful cries
heart is too sick because of your love
flake by flake wounds I guess
piece by piece of me remember us ..
I recalled more and more broken heart ..
but why ...
until now I still love you ...??
wound stripes melt ... hope love thickens ..
try to slavishly cry ...
and wiped tears from her cheeks ..
why these injuries made ​​me more love ..?
when will these tears into tears clear and not cloudy ..
when will the crying stop patter ...
into a drop and the last ..
I should not have to .. I was crying ...
I should be strong ...
should not have bet my tears ..
only after another ... and the memories that have gone ..
but why ... why until now I can not forget her?
why continue to fall ...? and shed tears that this heart perihkan ...
my heart is a taste ...
tears are falling .... falling for the love that has been ignoring me,
my eyes are witness to how my tears fall for him ... ..
my tears keep falling .... too much .. and laughing ..
dripping too long, and continues to spill .. ..
I'm alone with my grief ..
who drowned by the sound of my tears ..
with flakes heart that will I bring,..
till I die...
Read More

Cinta Mengapa Kau Tingkan Aku

07.56 | , ,


Cinta,...
Kenapa kau tinggalkan aku...?
Takkan ada cinta seperti dirimu lagi
Saat aku sendiri..
Engkau Malah semakin Jauh..
Cinta kau buat aku terpuruk dalam kesendirianku ini..
Mengapa semua ini harus terjadi..?
Perpisahan ini menghancurkan ku
Sayang sungguh aku menyayangimu..
Merindukanmu..membuatku menangis.
Aku begitu ingin kau memelukku..
Untuk yang terakhir kalinya..
Tapi kau malah membuatku menangis..
Aku masih sangat menyayangimu
Walaupun aku tau..kau takkan peduli..
Aku masih merindukanmu
Walau pun aku tahu kau terus jauhi aku
Aku takkan sanggup menghapus segala bayangmu..
Tapi kini...
Aku relakan kau pergi dariku...
Dan aku menangis lagi..
Karna hatiku terluka dan perih..
Setelah kepergianmu...
Kini hariku menjadi berubah..
Hari yang biasa ku jalani dengan kesenangan
Telah berubah menjadi keputus asaan..
Kegembiraan yang dulu aku rasakan..
Saat memilikmu telah berubah menjadi kesedihan
Karna kehilanganmu..
Mengapa aku harus merasakan semua ini..?
Mengapa diriku tak pernah bisa melupakanmu ?
Dan mengapa hanya dirimu yang slalu ada dalam pikiranku..
Mungkin salah ku juga telah mencintaimu dg sepenuh hatiku..
Hingga aku jadi seperti ini..
Kini ku harus bangkit dan melupakan semua tentangmu..
Walau tak mudah..tuk melupakanmu..
Tapi aku akan selalu coba sebisaku..
Read More

Ditemukan Planet Tanpa Matahari

02.48 |


Ilmuwan menemukan sebuah planet yang tak mengorbit pada bintang. Lonely planet yang disebut CFBDSIR2149 ini ditemukan mengambang di jagat raya, tanpa melakukan evolusi atau kegiatan mengelilingi bintang seperti dilakukan bumi atas matahari.

Ini adalah planet pertama yang terisolasi dari jenisnya yang pernah ditemukan oleh para ilmuwan, setelah lebih dari satu dekade mencari, dalam proses digambarkan sebagai "mencari jarum tunggal dalam ribuan tumpukan jerami."

Sampai tujuh kali ukuran Jupiter, planet itu mengambang bebas tanpa ikatan gravitasi dan memenuhi kriteria tertentu massa, temperatur dan usia yang akan ditunjuk sebagai "planet". Usia antara 50 dan 120 juta tahun, memiliki suhu sekitar 400 derajat Celcius dan diyakini menjadi bagian dari sekelompok sekitar 30 bintang yang sangat muda yang dikenal sebagai Kelompok Doradus AB Pindah.

Planet itu sendiri ditemukan oleh para peneliti di University of Montreal, yang berkonsultasi dengan rekan-rekan Prancis dan data dari Kanada-France-Hawaii Telescope dan Teleskop Observatorium Selatan Eropa Sangat Besar. Meskipun para ilmuwan telah mengetahui jenis planet "tunawisma" ada, mereka belum mampu mengamatinya sampai sekarang. Hal ini diyakini planet terpencil bisa saja terpental dari badan-badan lain selama pembentukannya.

Penemuan ini diharapkan membuat para astronom mendapat pemahaman yang lebih besar. Keberadaannya sangat mendukung teori bahwa jenis objek "tunawisma" lebih umum dalam ruang daripada saat berpikir. "Meskipun teori telah membentuk keberadaan jenis planet yang sangat dingin dan muda, namun belum pernah diamati sampai saat ini," kata Étienne Artigau, astrofisikawan.

"Objek ini ditemukan selama scanning yang setara dengan 1.000 kali permukaan bulan purnama. Kami mengamati ratusan juta bintang dan planet-planet, tetapi kami hanya menemukan satu planet tunawisma di lingkungan kami. Sekarang kami akan mencari mereka di sumber astronomi yang lebih jauh. Ini seperti mencari satu jarum dalam ribuan tumpukan jerami."

Tim astronom akhirnya mampu mempelajarinya karena kedekatannya komparatif, dan tidak adanya bintang terang yang sangat dekat dengan itu. "Mencari planet di sekitar bintang mereka mirip dengan mempelajari kunang-kunang duduk satu sentimeter dari lampu mobil yang terang," kata Philippe Delorme, penulis utama dari Institut de planetologie et d'Astrophysique de Grenoble, Perancis. "Objek yang mengambang bebas ini menawarkan kesempatan untuk mempelajari secara rinci kunang-kunang tanpa lampu menyilaukan dari mobil mengacaukan segalanya."

Jonathan Gagné, mahasiswa doktoral fisika di Udem, menambahkan, "Selama beberapa tahun terakhir, beberapa objek dari jenis ini telah diidentifikasi, namun keberadaan mereka tidak dapat ditentukan tanpa konfirmasi ilmiah usia mereka. Para astronom tidak yakin apakah akan mengkategorikan mereka sebagai planet kerdil atau sebagai brown." Brown dwarf adalah bintang gagal, karena mereka tidak pernah berhasil memulai reaksi nuklir di pusat-pusat mereka.

Kata "planet" berasal dari bahasa Latin, planetus. Awalnya berasal dari kata Yunani, planeta-planêtês, arti bergerak atau mengembara benda-benda angkasa. Definisi membedakan mereka dari bintang, yang tampaknya berada dalam posisi tetap di langit.
Read More

Rohis Manis Bukan Teroris

02.36 | , , , ,


Beberapa hari ini ramai pemberitaan tentang Rohis sebagai tempat pembibitan teroris yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta. Alhamdulillah, sudah banyak protes yang dilayangkan dalam bentuk pengaduan ke KPI yang membuat pihak terkait membuat surat permintaan maaf, meskipun banyak yang kurang puas dari bentuk pernyataan maaf itu.


Nah, tentu dan sudah pasti, saya termasuk salah satu yang protes dari pemberitaan itu. Karena saya adalah anak Rohis. Mari, mari, sejenak kita lupakan berita teroris, saya akan berbagi hal manis yang saya dapat di rohis. Boleh, boleh, disimak bersama sepotong roti manis dan secangkir teh manis.


Semua yang pernah duduk di bangku pendidikan terutama SMP dan SMA, pasti tau banyak ragam ekstrakulikuler di sekolah. Paskibra, Futsal, Basket, PMR, dan sudah pasti Rohis. Biasanya ada kewajiban dari sekolah untuk memilih dan aktif mengikuti kegiatan ekskul sebagai persyaratan kenaikan kelas. Nah, kita tinggal pilih saja mana yang sesuai dengan minat dan bakat kita, di mana wadah yang bisa menampung kreativitas kita dan membuat kita berkembang.


Dan bagi saya, berada di wadah ekskul Rohis adalah hal termanis dari rasa persahabatan dan pembelajaran yang saya rasakan. Karena saya pikir, Rohis itu ekskul yang paling aman, paling alim, kegiatannya paling ngaji aja, gak ada deh kakak-kakak galak yang doyan nge-bully. Meskipun pada awalnya saya merasa tersesat dari alasan saya, tapi ternyata tersesat di jalan yang benar. Hehe.


Pertama kali bergabung dengan Rohis ketika saya SMA. Sekolah saya termasuk sekolah favorit nan eksis, anak-anak perempuannya cantik-cantik dan manis, juga penampilannya yang borjuis. Jika disejajarkan dengan mereka, saya tidak percaya diri, rasanya mereka itu terlalu tinggi dan tidak tergapai untuk saya imbangi agar bisa berteman dengan mereka. Istilah kerennya, saya gak selevel sama mereka (kasian banget ya..). Parahnya lagi, sifat dasar saya itu pendiam dan pemalu, apalagi kalo ketemu teman baru, susah mengingat nama, gak pandai basa-basi, gengsi ngajak kenalan duluan. Jadilah, Rohis sebagai tempat yang saya rasa aman untuk sifat saya ini. Hehe.


Alhamdulillah, hal termanis pertama yang saya temui di Rohis adalah kakak-kakak yang manis *Eh*. Hehehe. Seriously, mereka sangat murah senyum dan selalu mengucapkan salam jika bertemu. Sambutan awal yang hangat, sehingga saya nyaman dan rajin datang setiap minggunya untuk mentoring di masjid sekolah. Aah, saya ingat dengan jelas, saya masih malu-malu gitu, hehe, cuma ngomong kalo ditanya sama kakaknya. Duh, senangnya kalo lagi sesi sharing dan curhat, haha. Di mentoring itulah saya belajar untuk “speak up”, meskipun hanya di dalam kumpulan yang jumlahnya hanya 10 orang saja, buat saya itu udah bikin keringat dingin. Tapi kakak-kakak Rohis selalu menyemangati, dan dengan sabar memberikan setiap anak waktu dan kesempatan bergilir untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya. Dan ternyata, semua itu mudah dan luar biasa ya kalo bisa mengutarakan apa yang ada di pikiran dan perasaan kita.


Karena di Rohis, saya mulai mendapatkan rasa percaya diri, maka saya mencoba bergabung ke komunitas atau perkumpulan lain yang lebih besar, yang lebih banyak anggotanya. Dan saya jadi senang berteman, berkenalan dengan teman baru, bertukar pikiran dan berbagi informasi.


Jadi, dari Rohis saya belajar untuk bisa mengatur dan mengubah sifat-sifat baik dan yang kurang baik di dalam diri saya. Terutama sifat pendiam dan pemalu. Sedikit demi sedikit, porsinya disesuaikan dengan tempat dan keadaan. Karena kalo kita cuma diam aja dan malu (apalagi gengsi, padahal mah mau), gak ada yang bisa kita dapatkan, gak ada yang bisa kita raih kalo diam aja dan gak berani speak up.


Di Rohis juga saya menemukan cara yang tepat untuk mengutarakan pikiran dan perasaan saya, salah satunya melalui tulisan. Dan yang lebih penting lagi, hal utama yang saya dapat di Rohis, bahwa semua yang kita lakukan, besar atau kecil, niatkan hanya untuk Allah, demi mendapat ridho Allah.


Maka beriring tulisan ini yang saya harap penuh dengan ridho dari Allah, saya persembahankan untuk saudari saya di Rohis. Terimakasih untuk persahabatan yang begitu manis. Juga untuk adik-adik yang sekarang ada di Rohis, jadilah anak yang manis, tunjukkan kalo kalian bukan teroris, tapi pemuda yang selalu optimis. :D
Read More

Secangkir Teh Buatan Ayah

02.34 | , , , ,


Terkadang, hal kecil yang dilakukan oleh orang lain untuk kita, terasa tidak berarti apa-apa sebelum ada orang lain yang menceritakannya kepada kita, dan memberitakan hikmahnya.
Dan, ini adalah kisah adikku, Riska, yang baru menyadari hikmah di balik secangkir teh buatan ayah, setelah bertahun-tahun menganggap itu adalah teh yang biasa-biasa saja...

***

Ini adalah wawancara kerja ke-sekian kalinya yang telah dilalui oleh Riska. Tapi wawancara kali ini lebih berkesan. Bukan hanya karena Sang Direktur BUMN itu sendiri yang mewawancarai, tapi juga karena apa yang disampaikannya seperti mengingatkan Riska pada barang kesayangan yang dulu pernah hilang dan belum ditemukan kembali.

Sang Direktur itulah yang menemukannya. Orang yang tak diduga-duga, telah mengembalikan ‘barang kesayangan’ miliknya yang hilang.

“Jadi, setelah kamu merenung sekian lama, tahukah kamu apa itu integritas?”

Mungkinkah integritas yang dimaksud Bapak ini sama dengan integral yang kupelajari saat kuliah dulu?  Tanyanya sendiri dalam hati.

Riska menggeleng. Sang Direktur menghela nafas berat.

“Oke, sekarang saya mau tanya, bagaimana suasana keagamaan di rumahmu? Sangat agamis? Biasa saja? Atau malah antipati?”

Ah, ini BUMN berbasis syariah. Maka beginilah pertanyaannya.

“Sangat agamis,” jawab Riska pendek. Ia mengelap keringat di atas bibirnya dengan tisu yang ia lipat rapi menjadi bujur sangkar kecil.

“Kalau begitu, ceritakan! Ceritakan apa yang dilakukan ayahmu dari ia bangun pagi sampai ia tidur! Saya ingin tahu, seberapa agamisnya?”

Riska menyandarkan punggungnya pada kursi, berusaha rileks. Ia pejamkan matanya sesaat, dan cerita mengalir dari bibirnya.

Ayah, sepanjang ingatan Riska, selalu bangun sebelum Subuh. Mengawali hari dengan sholat qiyamullail. Selepas solat, Ayah akan menjerang air di ketel. Sambil menunggu air itu mendidih, Ayah akan membuka Al-Qur’an, membacanya dengan suara membahana yang terdengar seisi rumah. Kadang, Riska terbangun karena suara Ayah mengaji.

Setelah air mendidih, Ayah menyeduh kopi untuk dirinya, dan teh-teh untuk seluruh anggota keluarga. Jika ada roti—dan memang hampir setiap hari ada roti—Ayah akan mengolesi roti dengan mentega atau selai. Lalu Ayah hidangkan di piring. Beres dengan itu semua, Ayah akan bangunkan, pertama-tama, dua adik laki-laki Riska untuk bersiap sholat Subuh di masjid dekat rumah.

Selalu begitu setiap hari. Tak ada hari libur di mana Ayah tidak melakukan semua ritual itu.

“Kenapa Ayahmu membuatkan teh untuk anak-anaknya?”

“Ayah sengaja membuatkan kami teh, supaya ada sesuatu yang bisa kami nikmati begitu kami membuka mata. Juga, supaya adik-adik saya yang laki-laki mau bangun pagi dan sholat di masjid. Mereka suka sekali teh.”

“Selalu begitu setiap hari?” tanya Sang Direktur.

“Ya, itu rutinitasnya,” jawab Riska.

Sang Direktur tersenyum samar sebelum akhirnya ia berucap: “itulah integritas.”

“Oh ya?” Riska membulatkan matanya. Sesederhana itukah integritas?

“Ya,” Sang Direktur menjawab tegas. “Ayahmu ingin setiap anak laki-lakinya sholat subuh di masjid. Dan ia tidak sekedar memerintah dengan ucapan, tapi ia memberikan contoh, memfasilitasi, dengan ngotot, terus-menerus, tidak peduli bahwa sebetulnya, ia mungkin bosan harus membuatkan teh untuk kalian semua, agar sekadar kalian mau bangun pagi...”

“Tidak banyak kalimat perintah yang mungkin ia katakan. Hanya contoh nyata, bahwa perkataan dan perbuatan seiring sejalan.” Urai Sang Direktur. “Dan kau tahu?” tanyanya kemudian, “Itulah yang bedakan antara Ayahmu, dan koruptor!” Sang Direktur memberi tekanan pada kata terakhir.

Tiba-tiba saja, hati Riska meleleh. Sebesar itukah makna secangkir teh di pagi hari, yang selalu ia teguk begitu keluar kamar tidur, saat matanya bahkan belum benar-benar terbuka?

“Riska, koruptor mungkin lebih fasih mengumandangkan kalam Ilahi daripada ayahmu. Ilmu agamanya bisa jadi lebih luas dari yang dimiliki Ayahmu. Tapi, apa yang mereka katakan, ilmu yang mereka peroleh, tidak mereka jadikan sebagai prinsip hidup. Tidak mereka laksanakan pula berupa wujud nyata. Mereka merasa cukup dengan bicara, bicara, bicara...”

“Para koruptor, mereka seorang Ayah juga, mungkin hanya teriak-teriak membangunkan anak-anaknya di pagi hari. Kemudian di meja makan, menasehati: “Nak, kamu harus rajin sholat ya! Kamu harus rajin dateng TPA ya! Kalau nggak, mau jadi apa kamu nanti?” padahal, si Ayah itu, terlihat sholat di rumahnya pun jarang!”

Air mata Riska mulai tampak nyata.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Sang Direktur.

“Karena—karena saya baru sadar, bahwa apa yang dilakukan Ayah selama ini, sangat berarti. Selama ini, saya hanya melihatnya sebagai sebuah rutinitas...”

Dan saya seperti menemukan barang kesayangan yang telah lama hilang... lanjut Riska dalam hati.

Terbayang wajah Ayah. Terbayang apa yang ia lakukan tiap pagi. Dan, teringat, bahwa belum sekalipun Riska berterimakasih pada Ayah untuk itu...

Ah, integritas seorang Ayah...

Ternyata, untuk menemukan makna atas apa yang Ayah lakukan setiap pagi, ia harus mencarinya sejauh ini; enam tahap tes tertulis yang semuanya dilakukan di Jakarta—puluhan kilometer dari rumahnya, dan bertemu Pak Direktur yang telah mewawancarainya sejam lebih! Terimakasih! Alhamdulillah!
Read More

Setetes Embun Untuk Putri Malu

02.29 | , ,


Di pagi buta, rumah Ibu Nana diwarnai dengan teriakan. Bagaimana tidak ? Sasa anak dari Ibu Nana, lagi-lagi mencoba untuk bunuh diri.
“Ya ampun, anakku kenapa mau lakukan itu” kataku sambil menangis.
“Ku gak mau, menyusahkan keluarga ini dengan kehadirnku” balasku dengan sedikit kesal.
“Sasa gak pernah menyusahkan sama sekali” jawabku dengan menghibur.
            Namaku adalah Sasa, ku adalah anak pertama dari 3 saudaraku. Aku sejak dilahirkan, aku memang sudah tak sempurna. Kakiku sudah lumpuh, jadi sampai sekarang ku pun berjalan menggunakan kedua tanganku.
            Kenapa sih Tuhan, menciptakan aku ?. Kalau tidak sempurna, dan hanya menyusahkan keluargaku saja. Seharusnya aku yang menafkahi keluarga ini, karena Ayahku udah pergi dengan perempuan lain. Mungkin sudah lupa akan keadaan ini dan dia bahagia.

“Bu, bagaimana Sasa dititipkan dipanti atau yayasan sosial saja” kataku dengan yakin.
“Tidak” jawabku dengan singkat.
“kenapa tidak Bu ?” tambahku bertanya lagi.
”Sekali tidak tetap tidak” balasku dengan nada marah.
“kan bisa meringankan beban keluarga ini bu” ucapku dengan menunduk.
“Sasa itu anak Ibu dan Ibu yakin masih bisa merawat Sasa dan menafkahi keluarga ini”jawabku dengan menangis.
            Ku pun lalu menangis dipelukan Sasa, dan kami berdua pun menangis.
“mengapa Tuhan menguji kita seberat ini Bu” kataku menghadap Ibu.
“Sabar aja anakku” jawabku dengan mengelus kepalanya.
            Namaku Nana, Ibunya Sasa. Pekerjaanku hanyalah sebagai pembantu rumah tangga dan tukang cuci dikampungku, ku mempunyai 3 anak. Pertama Sasa namanya dan dia berumur 24 tahun, tapi sampai sekarang tak ada yang meminang anakku.
            Anak kedua ku adalah Cici, dia belajar sampai tamat SMP saja soalnya ku bergantian membiayai adiknya yang masuk SD. Anak ketiga ku, cowok sendirian namanya Rahman. Untung saja SD sekarang gratis, jadi Cici bisa melanjutkan SMA dan dengan surat keterangan tidak mampu.
            Aku adalah Sasa, perempuan yang hidupnya sendiri. Ku bangga dengan adikku Cici soalnya selain dia sekolah, dia pun rajin membantu Ibuku. Berbeda denganku yang hanya duduk,diam saja seharian dirumah.
            Suatu hari pun dirumah keluarga Ibu Nana, kedatangan seorang lelaki yang bernama Dedi. Ternyta maksud kedatangan Dedi adalah ingin meminang Cici, adik kandung dari Sasa.
            Pada saat itu pun Sasa mengalami beban mental yang berat, bagaimana tidak ?. Adiknya sendiri mau membuat keluarga sendiri, sedangkan aku sendiri hanya bisa terdiam. Tapi biarlah, asalkan adikku bahagiaa aku juga turut bahagia.
“Ibu, nama saya Dedi. Saya ingin melamar anak Ibu, yang bernama Cici. Apa Ibu mau mengijinkannya ?” kataku dengan tutur kata yang sopan.
“Ibu sih terima saja nak Dedi, tergantung dari Cicinya sendiri” jawabku dengan senyum ringan.
“Iya Bu” ucapku dengan membalas senyum balik.
“Tunggu Cici pulang dari pasar ya nak” balasku dengan menatap kesungguhan Dedi.
            Sambil ku menuggu Cici, ku pun ngobrol macam-macam. Tak berlama pun aku setelah menobrol dengan Ibu Cici, ku pun melihat seseorang sedang berjalan dengan tangan bersama anak kecil. Ku pun bertanya pada Ibu Cici dan Ia jawab, ternyata itu kakaknya Cici yang bernama Sasa dan anak kecil itu adiknya yang bernama Rahman dan mereka sedang bermain bersama.
            Ibu Cici pun bercerita semua tentang keluarganya dan termasuk tentang Sasa, lama-lama ku pun terpesona melihat sosok Sasa. Ibunya pun bercerita kalau dia itu pemalu, karena keterbatasannya.
            Tak berapa lama Cici pun datang dan menemui Ibu bersama Dedi, dan mereka pun ngobrol. Yang tadinya Dedi mau melamar Cici, tiba-tiba bilang ingin pendekatan keluarga dulu. Dedi pun dikenalkan oleh Cici semua kelurganya, termasuk berkenalan dengan Kakaknya Cici yaitu Sasa.
            Aku pun berkenalan dengan Sasa, dia bercerita berbagai macam. Dengan senyumnya ku selalu teringat, ku pun semakin tertarik dengan Sasa dan melupakan Cici.
            Cici pun mulai merasa cemburu akan kedekatan Dedi dengan Kakaknya, Pada suatu malam pun terjadi pertengkaran dahsyat antara Ibu dan Cici membahas tentang Dedi.
“Bu, Sasa merebut Dedi” Ucapku dengan nada tinggi.
“Mau gimana lagi nak”balasku dengan sedikit menenangkannya.
“Kakak bikin susah dan repot saja” kataku diluar kendali.
            Tak sengaja Sasa pun mendengar perkataan adiknya itu, ia pun berfikir meninggalkan rumah saja. Cici pun merasa Ibunya selalu membela kakaknya dan menganggapnya pilih kasih, Selesai pertengkaran yang menghasilkan jalan buntu. Saat mereka kekamar Sasa, Sasa pun sudah lenyap entah kemana.
            Mereka pun panik, mereka semua mencari Sasa semalaman dengan menangis. Tiba-tiba 2 jam kemudian, tepat tengah malam dingin yang menyengat. Dan dengan diselimuti embun malam, Sasa pun kembali kerumah bersama Dedi.
            Dedi menceritakan semua kejadian ini ke keluarga Sasa, Saat aku dijalan menuju pulang tak sengaja aku melihat Sasa ingin bunuh diri dan aku pun menolongnya. Pada saat itu pun Cici menyadari lebih baik membahagiakan orang lain, dibandingkan membahagiakan diri sendiri. Cici pun merelakan Dedi untuk bersanding dengan kakaknya, Sasa pun sempat menolak karena minder dengan keadaannya tetapi Dedi mencoba meyakinkannya.
            Beberapa minggu kemudian, Dedi dan Sasa naik kepelaminan dan memulai hidup baru. Senyuman pun terpancar dari bibir mereka, keluarga dan Cici pun merasa bahagia sekali.
            Sejak hidup dengan Dedi, Sasa pun mulai memberanikan diri untuk melakukan sesuatu meski dengan keterbatasannya. Karena semua tak ada yang tak mungkin, karena cinta bisa merubah segalanya dan Tuhan yang memutuskannya
Read More

Menangislah Bumiku

02.25 | , , ,


Bumi menangis sepenuh hari ini

Sepanjang siang serentang malam

Lelehan air matanya tak kunjung merantas

Isak sedunya tak juga mereda

Tak secuilpun iramanya menyisakan kesukaan

Melesak dalam ke jurang iba

Entahlah yang ia rasakan

Agaknya…

Kenistaan masih saja dilakonkan di pangkuannya

Air mata itu tak sampai muara

Isak sedu itu selamanya tanpa jeda

Sampai semua nista

Berhenti dipentaskan
Read More

SAJAK - SAJAK KELAM

02.22 | , , ,

Sajak ini doa, tangan yang menampung luka, yang menjagamu, agar kau tak pernah merasa sendirian, dan ditinggalkan.
Mencintaimu merupakan caraku berdoa setiap hari, untuk semua kebahagiaan kita.
Aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.
Kupandangi langit lembut itu, seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia, yang lebih ajaib dari surga.
Kekasihku, selalu ada yang pantas kita muliakan, yang membuat kita akan terus bertahan, bahkan dalam kepedihan.
Aku punya cara sederhana mencintaimu: dengan selalu mendoakan kebaikan dan keselamatanmu…
Sesuatu, yang kausebut kenangan, telah membukakan padaku rahasia, cara mencintaimu tanpa pernah merasa kehilangan.
Kangen ini. Laut tak bertepi…
Entah kenapa, aku ingin membelikanmu jaket, yang setiap kali kaupakai, akan juga menghangatkan kerinduanku.
Aku masih saja menerka-nerka, lebih merah mana, senja ataukah luka, yang kau sembunyikan sekian lama.
Ada banyak cara berbahagia; satu-satunya cara yang tak pernah kubisa ialah melupakanmu.
Duka hanyalah mentega yang meleleh di penggorengan panas.
Senja yang muram, selalu mengingatkan pada ciuman kita yang tergesa dan gemetar.
Ada saat-saat ketika mencoba melupakanmu, semua benda yang dulu pernah kita sentuh, seperti berbicara kembali tentang kamu.
Darimu aku faham, bila airmata ialah rahasia penciptaan Tuhan, yang paling menakjubkan.
Malam, sesungguhnya, tak pernah memejam. Ia hanya diam-diam menyembunyikan luka kita dalam kelam, agar kita bisa tidur tentram.
Aku akan jadi doa malammu. Sementara kau perlahan memejam tentram, aku akan menggapai langit: mengetuk pintu surga bagimu.
Read More

Pada Hari Ulang Tahunmu, Aku Menduga - Duga

02.21 | ,


kukira jarak antara kita
hanya sebentar tempuh perjalanan,
tapi aku masih juga harus tersesat
untuk sampai kepadamu,
menyuguhkan diri pada perayaan itu.
kau pun memulai pertemuan
dengan menyanyikan kesedihan itu.
sambil memejamkan mata,
kau meminjam kata-kata
untuk mengantarkanmu
pada kenangan yang jauh,
yang tak pernah terjangkau
oleh panjang lengan ingatan.
kau terus menerus menuang mabuk
di kepala dan dada,
agar bisa kau sepenuhnya lupa,
bahwa pada hari ini, di tempat yang lain,
ada yang merayakan kesedihannya
dengan meniupkan sebuah lilin dan sebuah doa:
“semoga tahun depan, aku masih bisa
meniupkan sebuah lilin lagi, untukmu.”
Read More