MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

KASIH YANG HILANG

03.36 | ,


Kisah ini bermula saat pertama kali melihat dia di malam pertemuan kepanitiaan. Saat itu aku terlambat datang, dan langsung memilih tempat duduk disampingnya ( maklum terlambat datang akupun jadi pusat perhatian para peserta rapat ). Karena kedatanganku hanya untuk mengikuti pertemuan, jadi saya tidak begitu memperhatikannya.

Walaupun kami duduk berdampingan dan terkadang saling bersentuhan tapi saling menyapa tak pernah terjadi, entah karena perhatianku yang tertuju dengan masalah yang sedang dibahas atau kebodohanku untuk memulai pembicaraan ( yang jelasnya aku bukan manusia bodoh seperti yang selalu dinyanyikan oleh sekelompok anak muda}.

Sampai akhirnya, apa yang sedang dibicarakan sudah mendapatkan titik terang, pertemuanpun segera diakhiri. Walau kegiatannya sudah selesai, namun kami tak langsung bubar. Sebagian masih terlihat sedang terlibat pembicaraan mengenai masalah yang dibahas didalam pertemuan tadi, sebagiannya lagi tampak sibuk membicarakan apa yang sedang mereka alami dengan pasangannya. Sedang aku sendiri lebih memilih untuk mengamati apa yang sedang mereka lakoni, terkadang pertanyaan-pertanyaan kecil tercentil di pikiranku. Apa yang mereka sedang lakukan apakah sama dengan apa yang mereka rasakan.

Ditengah keasyikanku menikmati pemandangan yang sedang terjadi tiba-tiba terdengar suara gaduh dari belakang, semua orang yang berada ditempat itu sontak kaget tidak terkecuali aku. Redan, salah seorang dari kami langsung beranjak dari tempat duduknya dengan maksud mencari sumber suara tadi. Ia berjalan menyusuri lorong gelap, tempat di mana suara gaduh bersumber. Ternyata suara itu akibat Robi terjatuh saat dia bermaksud untuk kekamar kecil, Memang sih jalan untuk menuju kekamar kecil tidak mendapat penerangan.

Mengetahui suara itu akibat Robi terjatuh, semuanya pun langsung tertawa, orang yang tadinya sibuk dengan urusannya masing-masing berubah menjadi gaduh karena suara tawa. Tanpa peduli rasa sakit yang diderita Robi, senyum lebar tetap di pertahankannya. Melihat semua orang menertawainya, saya yakin apa yang dirasakan Robi saat terjatuh tidak seberapa dibanding rasa kecewa saat melihat teman-temannya yang seharusnya mengasihinya justru menertawakannya. Namun begitu ia tetap menyembunyikannya, dengan raut muka yang dipakasakan.

Yamungkin inilah kebiasaan buruk kita, melihat orang terkena masalah kita malah berlomba-lomba untuk menertawakannya ( sungguh budaya yang unik ). Tanpa pernah mau berusaha untuk memberikan semanagat.

Malam yang terus berburu dengan pagi, membuat banyak yang memilih untuk melepaskan letih di tempat pambaringan yang berlapis tikar. Dan sebagian lagi merapikan tempat pertemuan, merapikan dan terus memunguti sisa-sisa makanan yang berserakan dilantai.. Kini hanya tinggal Rani bersama dua orang temannya yang masih terlihat bercanda, sedang aku sendiri masih hanyut dalam lamunan. Daripada aku hanya tinggal melamunkan sesuatu yang tak mungkin terjadi, aku memutuskan untuk ikut bergabung, tapi satu hal yang menjadi masalah adalah keberanian untuk terlibat obrolan dengan lawan jenis tidak aku miliki.

Tapi untunglah malam itu aku mendapatkan mukjizat untuk melakukannya. Baru aku berencana untuk mengahampirinya, tiba-tiba mukjizat yang satunya datang lagi, salah seorang dari mereka memanggilku ( Abdi.. ko..kamu betah disitu sendirian, ayo.ikut gabung sama kita), tanpa pikir-pikr lagi aku langsung menerima ajakannya. Hampir separuh malam kami lewatkan dengan saling bercanda, rasa grogi yang selama ini aku alami ketika berbicara dengan kaum hawa tidak terjadi lagi.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 02.30, Tini dan Warni memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolannya karena rasa ngantuk yang sudah tak tertahan lagi. Tinggallah kami berdua, topik pembicaraan pun berganti. Berusaha untuk lebih mengenal adalah tema utama kami. Diantara kami banyak sekali persamaan tapi yang paling menonjol ialah kesulitan untuk mencari teman dekat Hal inilah yang membuat kami bisa akrab dengan waktu yang cukup singkat. Karena pagi sudah menjelang kami memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dan berjanji untuk melanjutkannya di lain waktu.

Saat terbangun dari tidur yang tidak di temani mimpi-mimpi indah, segera kulangkahkan kaki kekamar yang berada di lantai atas. Dengan mata yang masih berusaha menahan rasa kantuk, kuketuk pintu kamar yang tertutup rapat. Rani, teman sekamarnya muncul bibalik pintu dengan tangan yang sedang membersihkan kotoran yang menghiasi kedua bola matanya.
Rin,.
Riana, sudah bangun belum ?
Dia pergi dari tadi pagi, ( tadi pagi ia mendapat kabar, katanya ibunya sedang berusaha melawan sakitnya ) jawabnya dengan suara yang masih bercampur ngantuk.
Emangnya kenapa, ? Tanyanya dengan nada yang sedikit keheranan ..
Tanpa menjawab pertanyaan yang ia ajukan, aku segera meninggalkan tempat itu.
Ternyata hari itu juga, ia memutuskan untuk kembali menemui orang yang sedang menunggu kedatangannya di Batam.

Saya mencoba mencari tahu lewat teman-temannya alamat yang bisa saya hubungi namun tak seorang pun mengetahuinya secara pasti. Entah sekarang kabarnya bagaimana, karena sudah setengah smester kami tidak pernah bertemu ( .. semoga saja dia dalam keadaan bahagia dan masih mengingat malam itu ) hanya itu yang bisa aku harapkan.

0 komentar:

Poskan Komentar