MEMOTIVASI DAN TERUS MENCARI JATI DIRI

AKU RINDU PADAMU

03.30 | ,


Angin bertiup cukup kencang. Di belakang rumah terlihat pohon kelapa sesekali bergoyang. Hujan sebentar lagi akan turun. Awan gelap terlihat bergelantung di langit, tiada kecerahan diatas sana. Hujan turun membawa berkah, itulah kata ayah. Setiap kali hujan mulai turun saat menjelang musim tanam padi. Hal itu tentu sangat wajar, mengingat di desaku penduduknya lebih banyak bergantung pada pertanian sebagai mata pencahariannya.
Hamparan persawahan sudah menanti untuk diairi. Selama ini, air hujanlah yang menjadi harapan bagi warga sebagai sumber pengairan. Ini membuat para petani, hanya mampu melakukan masa tanam sekali dalam setahun. Dan itu ketika memasuki musim hujan, biasanya menjelang november. Akan tetapi petani tidak pernah membiarkan lahan kosong begitu saja, orang-orang banyak menanam tanaman palawija. Kondisi ini sangat memprihatinkan, biaya yang harus dikeluarkan petani terkadang tidak setimpal dari apa yang didapatkan.
Pernah seorang pengusaha dari luar desa, membangun pompa air sebagai penopang pengairan. Saat itu para petani mampu melakukan panen selama dua kali setahun. Dan hasilnya juga mampu menutupi keperluan belanja rumah tangga serta kebutuhan biaya pendidikan bagi orang yang masih menyekolahkan anaknya. Tapi hanya bertahan beberapa musim tanam hingga pengusaha tersebut menarik kembali mesin-mesin pompanya. Kenaikan harga bahan bakar, turunnya harga gabah, membuat biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapat dari pembagian hasil panen dengan petani.
Sejak itu, petani kembali mengandalkan air hujan sebagai sumber mata air. Sawah-sawah hanya ditanami sekali setahun, itupun dengan hasil yang tidak maksimal. Hal ini menjadikan sawah banyak beralih fungsi, menjadi lahan penanaman pohon kakao. Meski harus bersabar menunggu selama dua tahun lebih, baru mendapatkan hasil. Namun para petani merasa hal itu lebih menguntungkan ketimbang menanam padi. Setidaknya itulah yang dirasakan ayahku dan para petani yang lainnya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja hal Ini membuatku khawatir. Saya tidak pernah membayangkan kalau sawah yang dulunya tempat menanam padi, tanaman yang memproduksi makanan pokok harus berganti. Dan hanya karena ketidakberdayaan masyarakat dalam mengatasi kesulitan pengairan untuk persawahan. Kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, namun pemerintah setempat tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat mengeluarkan petani dari masalah tersebut.
Pernah suatu saat, aku berbincang-bincang dengan warga yang lainnya. Saya mengatakan bahwa seharusnya pemerintah harus berusaha mengadakan kembali mesin pompa air untuk mendukung pertanian di kampung ini. Namun jawaban yang kuterima hanyalah, sikap pesimistis dari warga. Hal ini sangat wajar, karena yang memegang jabatan Pemerintah Desa saat ini memang sangat miskin pemikiran. Ia tepilih hanya karena dorongan keluarga besarnya yang memang memiliki pengaruh di masyarakat.
Hal itu kembali membuka memori di kepala saya. Pada tahun 1991, saat itu umurku masih tujuh tahun dan masih tahun pertama di bangku sekolah dasar. Ayah dan ibuku, terpaksa menitipkan aku kepada keluarga. Karena kekeringan yang melanda, sawah-sawah terpaksa dibiarkan tergelatak begitu saja. Tidak bisa menghasilkan apa-apa, bahkan rumput liar saja enggan untuk tumbuh. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka harus mencari nafkah bersama warga lainnya di daerah lain.
Membantu memanen tanaman padi milik para petani, dan mendapatkan imbalan dari kerjanya itu. Daerah tersebut didukung dengan pengairan bagus. Tempat itu juga terkenal dengan lumbung beras di Sulawesi Selatan. Dari hasil yang didapat itulah keluarga kami bisa tetap mengkonsumsi nasi dari beras. Meski kondisinya sekarang lebih baik, ketakutan-ketakutan dimasa itu tetap menghantui pikiranku. Saya sungguh tidak rela, jika penduduk desa yang masih memiliki pertalian darah satu sama lainnya. Kembali mengalami masa-masa sulit seperti yang dulu pernah terjadi.
Rimbun daun pohon kelapa masih saja terlihat kokoh. Meliuk-liuk menahan gempuran angin yang bertiup cukup kencang hari ini. Sesekali terdengar suara gesekan dahan pohon diatap rumah. Pohon mangga harum manis di samping rumah, yang di tanam 20 tahun lalu juga harus berjibaku menahan gempuran angin. Ia harus terseok-seok, dahannya yang menjorok kerumah sesekali harus bersentuhan dengan seng yang digunakan ayah sebagai atap rumah. Mendengar suaranya gigiku sesekali terasa ngilu.Entah apa pengaruhnya bunyi dari geskan daun dengan seng dengan gigi yang terasa ngilu. Tapi yakinlah ketika kamu yang mendengarnya, pasti kau akan mengalami hal yang sama denganku.
Ayah terdengar memanggil dari kolom rumah. Membuatku berhenti berpikir dan memutar kembali rekaman masa lalu.
Kita harus kesawah sekarang. Katanya dengan suara yang ccukup keras. Mengalahkan gemuruh atap yang tertimpa air dari langit. Panggilan itu kujawab dengan segera beranjak. Mengganti baju, lalu menuju kesampingnya.
Selama ini, ayahku hanya sesekali mengajakku untuk membantunya disawah. Hanya dalam keadaan genting, barulah ia memintaku membantunya. Itupun ketika bertepatan dengan hari libur kuliah. Ayahku adalah tipikal penyayang. Meskipun ia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Hal itu hanya bisa saya rasakan ketika ia mengatakan, tugasmu adalah belajar sedang tugasku adalah mencari nafkah untuk mendukungmu.
Kata-kata itu terkadang, membuatku menangis dalam hati. Niat baiknya, ku balas dengan kemalasanku mengikuti perkuliahan. Pengetahaun yang kudapatkan dari luar bangku kuliah membuatku jemu dengan apa yang disajikan dunia akdemis. Terkadang absurd.
Belum sampai di sawah, tubuhku sudah mulai basah kuyup. Hujan memang cukup deras. Kali ini, pematang sawah haus diperbaiki. Agar air hujan tidak terbuang percuma. Air itulah yang nantinya digunakan dalam membajak sawah, sampai siap ditanami benih padi yang sudah setinggi 10 cm.
Meskipun aku dilahirkan dari keluarga petani, tapi aku tidak selihai teman-temanku yang lain dalam bekerja diswah. Berbeda dengan teman sebayaku yang sudah dari dulu memutuskan untuk bertani. Tapi kekurangan itu, tidak pernah dipermasalahkan ayahku.Menemaninya bekerja sudah merupakan hal yang istimewa baginya.
Kalau saja ia mau, sebenarnya hari itu ia tidak perlu memanggilku untuk membantunya. Karena hal itu sudah biasa dia lakukan sendiri. Tapi ia rindu ditemani kesawah katanya. Hal yang jarang saya lakukan, gara-gara kemalasanku untuk pulang kekampung, meskipun saat itu hari libur. Jadi begitu aku datang, ia biasanya minta untuk ditemani.
Begitulah cara kami melepas rindu. Sawah dan kebun jadi perantaranya.
Karena sawah tinggal beberapa petak, sisa dari lahan tanaman kakao. Maka kami tidak perlu terlalu lama untuk menyelasaikannya. Pada beberapa hari yang lalu, memang sebagian juga telah dikerjakan. Jadi tinggal memastikan sambil menambal kalau ada yang terlewatkan. Tidak lebih dari sejam, semuanya sudah beres.
Pisang goreng ditemani kopi pekat sudah tersaji diatas meja. Ibu, memang tahu betul apa yang harus disiapkan dalam keadaan kedinginan seperti ini. Pakaian basah kini sudah berubah jadi kering. Saatnya menyantap menu istimewa ala ibu dari tiga anak yang bertugas mengurusi kerja rumah tangga. Rasanya nikmat, kataku sambil menatapnya dengan wajah sedikit manja.
Kerinduan suasana rumah yang terkadang membayangi selama mengikuti perkuliahan terbayarkan sudah. Melepas kangen dengan ayah di sawah. Dan melepaskan rindu ke ibu, dengan mencicipi hasil karyanya sebagai seorang ahli dapur dikeluarga kami. Sungguh aku bahagia dengan semua itu. Tak akan aku lupakan semua ini.

0 komentar:

Poskan Komentar